Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Affinity by Canva, Kejutan Seru Dunia Desain di Penghujung 2025

Kejutan atau Api dalam Sekam?

Dunia desain, terutama grafis, belakangan ini lagi mendapatkan kejutan yang cukup bikin heboh. Berawal dari Maret 2024 lalu, Canva—platform desain yang cukup populer di Indonesia ini—tiba-tiba bikin pengumuman telah mengakuisisi Serif, perusahaan di balik Affinity Suite. Angkanya? Sekitar 380 juta dollar AS. Dan puncak kejutannya ada di awal Oktober 2025 kemarin. Canva meluncurkan ulang software Affinity sebagai aplikasi all-in-one (Designer, Photo dan Publisher) yang sepenuhnya gratis—selamanya. Ya, kamu nggak salah baca. Gratis dengan daftar atau login menggunakan akun Canva.​ 💯

Buat desainer Indonesia yang selama ini bergantung pada software bajakan atau kesulitan dengan aplikasi open source seperti GIMP dan Inkscape, ini momen yang menarik sekaligus bikin banyak timbul pertanyaan. Di satu sisi, ada peluang besar untuk akhirnya menggunakan tools profesional secara legal tanpa harus bikin kantong bolong. Di sisi lain, ada kekhawatiran yang nggak bisa diabaikan begitu saja. Yuk kita bedah lebih dalam perjalanan Affinity, transformasi Canva, dan apa artinya semua ini bagi kita—desainer, kreator dan pegiat kreatif di Indonesia.

Dari Serif yang Humble hingga Affinity yang Disegani

Cerita Affinity sebenarnya dimulai jauh sebelum nama aplikasi itu kita kenal. Serif Europe Ltd, perusahaan asal Inggris, sudah eksis sejak tahun 1987 dengan nama Roleage Ltd. Mereka dulunya bikin software seperti DrawPlus dan PhotoPlus—aplikasi desain yang mungkin sebagian orang jadul masih ingat.​ 😅

Tapi titik balik sesungguhnya terjadi tahun 2014. Serif meluncurkan Affinity Designer untuk macOS, aplikasi desain vektor yang dibangun dari nol. Ini bukan sekadar update dari software lama mereka. Ini adalah statement bahwasanya ada alternatif lain selain Adobe. Dan yang bikin menarik? Affinity Designer dijual dengan model perpetual license— yaitu bayar sekali, pakai selamanya. Tanpa langganan bulanan atau subscription yang bikin dompet keringetan setiap tanggal tua.​

Setahun kemudian, 2015, muncul Affinity Photo. Lalu di 2019, giliran Affinity Publisher yang menjadi pelengkap kedua aplikasi sebelumnya. Tiga aplikasi profesional yang kemudian dianggap menjadi pesaing serius bagi Adobe Illustrator, Photoshop, dan InDesign. Dan yang paling bikin banyak desainer jatuh hati: harganya cuma sekitar $70 per aplikasi untuk desktop, atau sekitar £59.99 untuk sekali bayar dan pakai seterusnya. Bandingkan dengan Adobe Creative Cloud yang bisa nguras $60-70 per bulan.​

Affinity nggak cuma soal harga murah. Performanya cepat, responsif, dan dibangun dengan memanfaatkan teknologi hardware terkini seperti Metal 2 untuk macOS. Fiturnya pun nggak main-main: mendukung PSD, AI, PDF, dan berbagai format file profesional lainnya. Ngga butuh spesifikasi laptop atau PC yang canggih untuk menggunakannya. Buat fotografer dan desainer yang butuh presisi tinggi, Affinity menawarkan editing 32-bit, RAW processing yang powerful, dan workflow non-destruktif.​ Dalam waktu sekitar 10 tahun, Affinity berhasil menarik lebih dari 3 juta pengguna di seluruh dunia. Mungkin bukan angka yang bisa mengalahkan Adobe, tapi cukup signifikan untuk menciptakan komunitas yang loyal dan solid.​

Kalau kamu cepet lelah dan bosen membaca tulisan yang panjang, kamu bisa santai dengerin ringkasan berupa podcast ini.

Canva: Dari Platform “Desain untuk Semua Orang” Menjadi Raksasa Global

Di sisi lain, Canva punya cerita yang berbeda. Diluncurkan tahun 2013 dari Australia, Canva hadir dengan misi sederhana tapi ambisius: membuat aplikasi desain yang mudah dan terjangkau (aksesibel) untuk semua orang, bahkan yang nggak punya background desain sama sekali.​ Dan kemudian mereka sukses, beneran. Sukses banget. Siapa coba orang yang aktif di sosmed yang gak tau atau gak pernah pakai Canva? Banyak banget Kreator atau Influencer Indonesia yang pakai Canva dan malah sebagian ada yang berasal dari pengguna biasa, mahir dan jadi Ambassador Canva.

Per November 2025, Canva punya lebih dari 220 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Jumlah ini melonjak drastis dari “cuma” 60 juta pengguna di 2021. Indonesia sendiri adalah salah satu pasar terbesar Canva, menempati posisi ketiga setelah Amerika Serikat dan Brasil dengan sekitar 5,9% dari total traffic global. Bahkan Indonesia jadi pasar nomor 1 untuk fitur Presentasi Canva.​ Canva beroperasi di 190 negara, tersedia dalam lebih dari 100 bahasa, dan mencatat valuasi mencapai $40 miliar di 2025. Revenue tahunan mereka? Sekitar $2-3 miliar. Angka yang fantastis untuk platform yang sebagian besar fitur dasarnya gratis.​

Model bisnis Canva memang cerdas: mereka menawarkan versi gratis yang cukup powerful untuk menarik user, lalu monetisasi lewat Canva Pro ($120/tahun atau sekitar Rp 95.000/bulan di Indonesia) dan Canva Teams untuk perusahaan. Di Indonesia, Canva bahkan memperkenalkan paket harian (Rp 14.000/hari) dan mingguan (Rp 39.000/minggu) untuk memberikan fleksibilitas lebih.​

Yang membuat Canva begitu populer? Kemudahan. Template yang melimpah (lebih dari 5 juta template), koleksi aset desain yang masif (lebih dari 141 juta stock photo, grafis, video, font), dan antarmuka yang intuitif. Kamu nggak perlu jadi desainer profesional untuk bikin konten yang “cakep”. Ini jadi solusi sempurna buat marketer, guru, content creator, bahkan emak-emak yang pengen bikin undangan ulang tahun anaknya.​ Tapi ada satu hal yang Canva belum punya: kredibilitas di mata desainer profesional. Canva dipandang sebagai tools untuk amatir. Tools untuk yang “belum bisa desain beneran”. Dan ini yang kemudian mendorong Canva untuk beraksi besar: akuisisi Affinity.

Awal Cerita: Maret 2024

26 Maret 2024, Canva mengumumkan akuisisi Serif dan seluruh Affinity Suite seharga sekitar $380 juta. Reaksi komunitas desainer? Campur aduk.​ Di satu sisi, ada optimisme. Canva punya sumber daya yang jauh lebih besar—permodalan dan keuangan, tim engineer dan infrastruktur cloud. Ini bisa mempercepat pengembangan Affinity, menambah fitur baru, dan memperluas jangkauan ke lebih banyak pengguna. Co-founder Canva, Cameron Adams, bahkan mengatakan bahwa mereka ingin “unlock the full spectrum of designers at every level“. Artinya, Canva nggak cuma mau melayani pemula dan amatir, tapi juga profesional.​

Di sisi lain, ada kekhawatiran besar. Komunitas Affinity takut bahwa Canva akan mengubah model perpetual license menjadi subscription-based (Berlangganan), seperti yang dilakukan Adobe. Ini wajar, mengingat Canva sendiri adalah platform berbasis subscription. Ditambah lagi, ada kekhawatiran Canva akan memasukkan AI generatif ke dalam Affinity—teknologi yang banyak ditentang oleh sebagian desainer karena isu hak cipta dan etika.​ Tak lama setelah pengumuman akuisisi tersebut, Serif dan Canva mengeluarkan “4 Janji” untuk menenangkan penggunanya:​

  1. Perpetual licenses akan tetap ditawarkan
  2. Harga akan tetap fair dan terjangkau
  3. Affinity akan tetap menjadi produk yang independen
  4. Tidak akan ada perubahan mendadak

Tapi… apakah janji-janji ini ditepati? Tunggu dulu.

Akhir Oktober 2025: Plot Twist yang Nggak Terduga

Di awal Oktober 2025, tiba-tiba saja Affinity menghentikan penjualan versi V2 dari ketiga aplikasinya (Designer, Photo, Publisher). tanpa info atau pesan. Sebagian pengguna udah kayak di ‘ghosting’ deh. 👻 Forum resmi Affinity dialihkan ke read-only mode. Video YouTube di-private. Website dikosongkan dari tautan pembelian. Sementara itu, Canva cuma kasih pesan singkat: “Sesuatu akan hadir di 30 Oktober mendatang”.​​ Spekulasi langsung meledak. Apakah Affinity akan jadi subscription-only? Apakah akan dibanjiri AI? Apakah ini akhir dari Affinity seperti yang kita kenal?

30 Oktober 2025, jawabannya datang—dan ini di luar ekspektasi semua orang. Canva meluncurkan ulang Affinity sebagai satu aplikasi all-in-one yang menggabungkan fitur Designer, Photo, dan Publisher dalam satu tampilan antarmuka. Tapi yang paling bombastis: Affinity sekarang gratis selamanya.​😮

Ya, bener-bener gratis. Tanpa biaya sama sekali (selain kuota download). Tanpa perlu berlangganan. Semua fitur utama Affinity bisa diakses tanpa bayar sepeserpun. Hanya memerlukan akses daftar dan login dengan akun Canva. 😅 Satu-satunya yang berbayar adalah fitur AI dari Canva (seperti Generative Fill, Background Remover, Magic Expand) yang memerlukan langganan Canva Pro.​ Dalam waktu kurang dari seminggu sejak peluncuran, Affinity mencatat lebih dari 1 juta pendaftaran baru. Ini angka yang luar biasa gede, membuktikan bahwa banyak desainer di berbagai belahan dunia yang butuh alternatif aplikasi desain gratis namun profesional.​

Apa yang Berubah? Apa yang Tetap?

Mari kita lihat perubahan konkret dari Affinity lama vs Affinity baru:

Yang Berubah:

  • Struktur Aplikasi: Dulu ada tiga aplikasi terpisah (Designer, Photo, Publisher). Sekarang jadi satu aplikasi saja dengan satu jenis file universal berformat .af.​
  • Model Lisensi: Dari perpetual license berbayar ($70 per app) menjadi freemium selamanya.​
  • Integrasi dengan Canva: Sekarang bisa langsung export desain dari Affinity ke akun Canva dengan seamless.​
  • Fitur AI: Pengguna dengan akun Canva Pro bisa akses fitur AI Canva langsung dari dalam Affinity.​
  • Branding: Rebranding total—logo baru, visual identity baru, tone yang lebih “punk” dan ekspresif.​

Yang Tetap:

  • Fitur Utama: Semua tools profesional yang ada di V2 tetap ada dan gratis.​
  • Performa: Tetap cepat, ringan, responsif, dan powerful.​
  • Kompatibilitas: Tetap support PSD, AI, PDF, dan format file desain profesional lainnya.​
  • Tidak Butuh Koneksi Internet: Aplikasi tetap bisa dipakai offline (kecuali kalau mau pakai fitur AI atau export file ke Canva).​

Yang Hilang:

  • Perpetual License Model: Pengguna versi lama yang sudah beli V2 masih bisa pakai, tapi versi V2 nggak dijual lagi dan nggak akan dapat update major.​
  • Independensi Penuh: Sekarang harus punya akun Canva untuk pakai Affinity.​​

Fitur dan Kelebihan Affinity vs Canva: Mana yang Cocok untuk Siapa?

Untuk memahami penempatan kedua platform ini, mari kita bandingkan:

Affinity: Tools untuk Desainer Profesional

Kelebihan:

  • Precision dan Control: Affinity memberikan kontrol penuh atas setiap pixel, vektor, dan layer. Cocok untuk pekerjaan yang butuh detail dan presisi tinggi seperti desain logo, ilustrasi kompleks, photo retouching profesional, dan layout publikasi.​
  • Workflow Non-Destruktif: Adjustment layers, live filters, dan editing RAW yang powerful.​
  • Performa: Lebih ringan dan cepat dibanding produk-produk Adobe, bahkan untuk kerjaan dengan ukuran file yang besar.​
  • Kompatibilitas: Support berbagai format profesional termasuk PSD, AI, INDD (via IDML), EPS, SVG, PDF.​
  • One-Time File Type: Sekarang semua pekerjaan (vektor, raster, layout) dicakup hanya dalam satu file berekstensi .af.​
  • StudioLink: Bisa switch persona (mode) antara Designer, Photo, dan Publisher dalam satu app tanpa harus export-import.​

Kekurangan:

  • Learning Curve: Tetap lebih sulit dipelajari dibanding Canva, meskipun lebih mudah dari Adobe.​
  • Template Minim: Nggak punya library template sebanyak Canva.​
  • Kolaborasi Terbatas: Nggak punya fitur real-time collaboration sekuat Canva.​
  • Harus Punya Akun Canva: Sekarang butuh account untuk aktivasi setelah instal.​​

Canva: Platform untuk Semua Orang

Kelebihan:

  • Kemudahan Penggunaan: Antarmuka drag-and-drop yang sangat intuitif. Bahkan orang tanpa pengalaman desain bisa langsung produktif.​
  • Template Melimpah: Lebih dari 5 juta template siap pakai untuk segala keperluan.​
  • Aset Gratis dan Premium: 141 juta+ stock photo, grafis, video, font, audio.​
  • Real-Time Collaboration: Bisa kerja bareng dalam satu project secara real-time.​
  • Cloud-Based: Akses dari mana saja, device apa saja asal ada browser dan bisa akses internet ke canva.com.​ Juga tersedia dalam versi aplikasi untuk Android dan iOS.
  • Fitur AI: Magic Studio dengan berbagai tools AI seperti Magic Edit, Magic Eraser, Background Remover, Text-to-Image.​​
  • Publikasi dan Berbagi Langsung: Export dan share langsung ke social mediamu, website, email, dll.​

Kekurangan:

  • Tools dan Kontrol Terbatas: Nggak punya kontrol pixel-level atau layer management sehebat Affinity atau Adobe.​
  • Subscription (Berlangganan) untuk Fitur Premium: Sebagian besar fitur canggih hanya bisa diakses dengan akun Canva Pro.​
  • Template-Based Design: Kadang hasilnya terlihat “terlalu Canva” karena banyak orang pakai template yang sama (Generik).​
  • File Format Terbatas: Opsi export lebih terbatas dibanding professional tools.​

Jadi Siapa Pakai Apa?

  • Canva cocok untuk: Content creator, marketer, guru, small business owner, atau siapa saja yang butuh bikin konten visual cepat tanpa skill desain tinggi. Presentasi, social media posts, infografis, poster event, newsletter, dll.
  • Affinity cocok untuk: Desainer profesional, ilustrator, fotografer, atau siapa saja yang butuh kontrol dan presisi tinggi. Logo design, branding, ilustrasi vektor kompleks, photo retouching profesional, layout majalah/buku, packaging design, dll.

Opsi Desainer Indonesia: Bajakan, Opensource, dan Dilema Legalitas

Sekarang mari kita bicara jujur tentang kondisi di Indonesia. Menurut Business Software Alliance (BSA), 83% perusahaan Indonesia menggunakan software bajakan atau tanpa lisensi. Ini angka tertinggi di Asia Tenggara, bahkan di Asia-Pacific. Bukan cuma individu, tapi perusahaan besar sekalipun.​ Kenapa? Ada beberapa alasan:

  1. Harga: Adobe Creative Cloud All Apps seharga $70/bulan atau sekitar Rp 1,1 juta/bulan di Indonesia. Untuk freelancer, mahasiswa dan beberapa masyarakat menengah ke bawah, ini angka yang sangat berat.​
  2. Persepsi Rendah terhadap IP (Hak Cipta/HKI): Masih ada anggapan bahwa software “nggak ada wujud fisiknya” jadi “boleh di-copy”.​
  3. Enforcement Lemah: Meskipun UU Hak Cipta No. 28/2014 sudah ada, enforcement-nya masih minim.​

Untuk bahasan terkait hal ini lebih lanjut kamu bisa baca disini

Tapi pembajakan punya risiko besar. Ada kisah di Reddit tentang perusahaan Indonesia yang kena denda 70 miliar rupiah karena ketahuan pakai Adobe bajakan. Ini bukan main-main. Adobe, Autodesk, dan publisher besar lainnya punya tim audit yang bisa melacak penggunaan ilegal.​ Dan bukan cuma itu, resiko malware dan ransomware selalu mengintai dan ngumpet dibalik aplikasi “Pak Tani”. 👹

Lalu bagaimana dengan alternatif gratis dan legal (Opensource) seperti GIMP dan Inkscape? GIMP (GNU Image Manipulation Program) dan Inkscape memang gratis dan open source. Tapi adopsinya di Indonesia masih rendah. Kenapa?

  1. UI/UX yang Kurang Familiar: Interface GIMP dan Inkscape berbeda jauh dari Adobe atau Affinity. Learning curve-nya sulit dan makan waktu lama.​​
  2. Dokumentasi dan Tutorial: Kebanyakan tutorial berkualitas tinggi masih dalam bahasa Inggris. Tutorial yang berbahasa Indonesia sering terbatas atau kurang mendalam.​​ Mungkin sebagian kreator menggunakan hanya untuk sekedar ngonten. 😂
  3. Kompatibilitas File: Meskipun GIMP bisa buka PSD, hasilnya sering nggak sempurna. Layer effect, blending mode, smart object kadang rusak atau berubah.​
  4. Fitur yang Kurang Lengkap: Untuk kebutuhan profesional tertentu (misalnya CMYK color mode untuk print, non-destructive editing yang lebih lanjut), GIMP dan Inkscape masih ketinggalan.​
  5. Dukungan Komunitas Terbatas: Meskipun ada forum dan grup seperti GimpScape Indonesia, komunitasnya masih kecil dan gak berkembang dibanding komunitas pengguna Adobe atau bahkan Affinity.​

Ini kenyataan yang bikin banyak desainer Indonesia mentok: produk-produk Adobe terlalu mahal, sementara produk bajakan berisiko tinggi, dan GIMP/Inkscape terlalu sulit atau terbatas.

Affinity Gratis: Game Changer buat Indonesia?

Nah, kehadiran Affinity versi baru ini yang dianggap bisa jadi game changer buat desainer Indonesia. Bayangin deh:

  1. Legal dan Gratis: Nggak perlu khawatir kena audit atau denda. Nggak perlu rogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan per bulan.​ 😭
  2. Profesional-Grade: Fitur dan kualitas secara umum hampir setara dengan produk-produk Adobe, tapi tanpa biaya.​
  3. Learning Curve Lebih Rendah dari GIMP: Affinity punya tampilan UI yang lebih modern dan familiar, terutama bagi “mantan”pengguna produk Adobe sebelumnya.​
  4. Support File Adobe: Bisa buka dan edit PSD, AI file dengan lebih baik dibanding GIMP.​ Lebih kompatibel
  5. Komunitas yang Berkembang: Dengan 1 juta+ user baru dalam seminggu, komunitas Affinity diyakini kelak akan terus berkembang dan makin besar.​

Untuk kamu yang pelajar, mahasiswa desain, freelancer pemula, atau UMKM yang butuh tools desain profesional tapi budget terbatas, Affinity ini bisa jadi solusi yang ideal saat ini. Nggak perlu lagi pakai software bajakan yang bikin was-was atau lelah dengan GIMP dan InkScape yang rumit.

Tapi tentu saja, untuk itu sebaiknya selalu ada kewaspadaan dan pertimbangan yang bijaksana.

Kritik dan Kekhawatiran: Apakah Ada “Biaya Tersembunyi”?

Meskipun pejabat-pejabat Canva dan di websitenya semua bilang Affinity “Gratis Selamanya, Ngga Ada Udang di Balik Bakwan”, komunitas desainer tetap skeptis. Dan mereka punya alasan bagus:​

1. Vendor Lock-In
Sekarang Affinity butuh akun Canva untuk aktivasi. Artinya, Canva punya kontrol penuh. Kalau suatu hari mereka ubah kebijakan, pengguna nggak punya pilihan. Berbeda dengan perpetual license lama yang sekali beli, bisa pakai online/offline selamanya.​​

2. Data dan Privasi
Meskipun Canva berjanji nggak akan pakai file pengguna untuk data set pelatihan model AInya, tetap saja ada kekhawatiran. Semua aktivitas sekarang terlacak lewat akun Canva.​ Sebaiknya kamu cermati dan teliti soal ini di bagian pengaturan Canva dan juga Affinity. Perhatikan opsi yang tersedia, bila perlu matikan.

3. Di Subsidi Silang dari Akun Berlangganan Pro
Model bisnis Canva sekarang jelas: Affinity gratis untuk menarik pengguna, lalu memonetisasinya lewat sistem berlangganan (Subscription) Canva Pro jika ingin akses fitur AI. Ini strategi loss leader. Tapi apa yang terjadi kalau strategi ini gagal? Apa Canva akan ubah model lisensinya lagi?​​

4. Ketidakpastian Pembaharuan Mendatang
Pengguna lama yang udah memiliki lisensi V2 sekarang mentok. Mereka tetap bisa pakai V2, tapi nggak akan dapat pembaharuan seperti sebelumnya lagi. Dan Canva belum jelas apakah akan kasih security patch atau bug fix untuk Affinity versi V2 sebelumnya.​

5. Kepedulian Etika terkait AI
Sebagian desainer menolak AI generatif karena isu Hak Cipta/HKI (Model AI dilatih dari karya seniman tanpa izin) dan ancaman terhadap profesi. Meskipun fitur AI di Affinity bersifat optional, beberapa orang merasa “Anti” pakai aplikasi yang di-subsidi oleh teknologi yang mereka tentang.​

6. Rekam Jejak Canva
Perusahaan dibalik Affinity, Serif pernah bilang “tidak ada rencana apapun dalam waktu dekat” di 2022, eh 2024 mereka dijual dan diambil alih. Terus waktu itu Canva juga bilang “ngga ada rencana untuk merubah sistem perpetual license“, eh sekarang model-nya berubah total. Kredibilitas janji-janji masa depan mereka jadi banyak dipertanyakan.​

Kritik-kritik ini valid dan penting dipertimbangkan. Tapi di sisi lain, buat banyak orang—terutama di negara berkembang seperti Indonesia—akses ke tools profesional secara gratis dan legal seperti ini sudah merupakan sebuah privilege dan perubahan yang sangat berarti, walaupun dengan segenap kemungkinan perubahan yang ada kelak. 😅

Refleksi: Apa yang Ini Semua Berarti?

Langkah Canva membuat Affinity gratis adalah disrupsi besar di industri kreatif terutama untuk aplikasi desain profesional. Ini seolah seperti tantangan langsung ke Adobe yang sudah terlalu lama mendominasi dengan model lisensi berlangganan yang mahal.​ Tapi lebih dari itu, ini juga pertanyaan filosofis tentang aksesibilitas tools kreatif. Apakah alat untuk berkarya harus mahal? Apakah hanya orang dengan kemampuan finansial tertentu yang bisa akses aplikasi profesional? Canva bilang tidak. Dan jelas mereka sudah membuktikannya. Dan dengan Affinity gratis, mereka juga membuktikannya untuk kalangan profesional. Dan tentunya untuk desainer di Indonesia, ini momen penting. Kita semua punya kesempatan untuk:

  • Beralih dari software bajakan ke legal tanpa harus bayar mahal.
  • Belajar tools profesional yang diakui industri secara global.
  • Membangun portfolio dengan software yang kredibel tanpa khawatir lisensi.

Tapi kita juga harus realistis. Affinity bukanlah solusi sempurna yang mencakup semuanya sekaligus. Untuk pekerjaan yang sangat spesifik atau dengan alur kerja (workflow) yang sudah terlanjur ter-integrasi dengan ekosistem Adobe (misalnya After Effects, Premiere Pro, atau plugin-plugin khusus), Adobe tetap jadi pilihan. Dan untuk pekerjaan cepat seperti konten media sosial atau presentasi, Canva tetap lebih praktis.​

Yang ideal? Kita punya pilihan. Dan sekarang, pilihan itu lebih banyak dan lebih terjangkau.

Masa Depan: Ke Mana Arah Ini Semua?

Pertanyaan besarnya: apakah model “Gratis Selamanya” ini akan terus berlanjut?

Canva punya pendapatan yang mencapai hingga $2-3 miliar per tahun dengan 21 juta pelanggan berbayar. Mereka bisa kasih Affinity gratis karena mereka memonetisasi dan medapatkan pemasukan silang dari berlangganan Canva Pro, Canva Teams, dan enterprise. Strategi ini bisa berhasil kalau:​

  1. Cukup banyak pengguna Affinity yang akhirnya memutuskan berlangganan Canva Pro untuk fitur-fitur AI dan tools tambahan lainnya.
  2. Integrasi Affinity-Canva menciptakan alur kerja baru yang sangat berguna dan bernilai untuk kerja tim dan skala perusahaan.
  3. Affinity menarik desainer profesional yang kemudian bikin template dan asset untuk Ekosistem di Canva.​​

Tapi kalau strategi ini gagal, ada kemungkinan Canva akan putar balik dan melakukan perubahan lagi. Mungkin dengan sistem berlangganan untuk fitur-fitur lebih lanjut dan mendalam di Affinity. Mungkin monetisasi lewat kapasitas penyimpanan onlinenya atau fitur-fitur kolaborasi. Atau bahkan kemungkinan terburuk, tidak melanjutkan produk Affinity sama sekali alias ditutup. Yang jelas, kompetisi ini bagus untuk pelanggan. Adobe sekarang harus mikir dua kali sebelum naikin harga lagi. Dan aplikasi open source lainnya seperti GIMP dan Inkscape juga akan termotivasi untuk memperbaiki tampilan dan fitur-fitur mereka agar tetap relevan dan kompatibel.​

Kesempatan yang Harus Dimanfaatkan

Sebagai desainer atau pengguna tools kreatif di Indonesia, saat ini tuh sebenarnya kita hidup di era yang sangat menarik. Dulu, pilihan kita terbatas: bayar mahal untuk Adobe, pakai bajakan dengan risiko tinggi, atau bercapek-capek ria dengan aplikasi open source yang kompleks dan ngga familiar. Sekarang, dengan Affinity gratis dan Canva yang makin canggih, lanskapnya berubah total. Apakah Affinity akan tetap gratis 5 atau 10 tahun ke depan? Ngga ada yang tahu pasti. Apakah ini strategi marketing jangka panjang atau eksperimen yang bisa berubah? Waktu yang akan menunjukkan. Tapi yang jelas, sekarang kita punya kesempatan yang lebih baik untuk:

  • Upgrade skill dengan tools profesional tanpa biaya.
  • Berkarya secara legal dan aman.
  • Eksplorasi berbagai tools dan temukan alur kerja yang paling cocok untuk kita.

Jangan sia-siakan kesempatan ini. Download Affinity sekarang, instal dan cobain fitur-fiturnya. Ikuti tutorial di YouTube atau bergabung dengan komunitas desainer. Kalau kamu butuh AI tools atau template melimpah, coba Canva Pro dengan paket harian atau mingguan yang terjangkau.​ Dan yang paling penting: terus belajar dan berkarya. Tools itu cuma alat. Yang menentukan kualitas karya tetap skill, kreativitas, dan dedikasi kita.

Dunia desain sedang berubah. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu sekian lama, perubahan itu menguntungkan kita—desainer dan kreator di Indonesia yang selama ini terpinggirkan oleh harga software yang banyak ngga masuk akal. Yuk kita manfaatkan momentum ini sebaik-baiknya.

Untuk yang mau cobain, download/unduh dan instal Affinity, bisa cek DISINI

Pastikan kamu udah punya akun Canva versi apa aja, termasuk yang gratis/free, kalau belum pastiin untuk buat akun dan daftar terlebih dahulu. Nanti setelah instalasi Affinity udah selesai dan berhasil, kamu akan diminta untuk aktivasi menggunakan akun Canva

Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image