Perhatian publik di media sosial menjadi modal utama dalam era social commerce di Indonesia. Namun, meraih konten viral hanya memberikan lonjakan audiens sesaat yang tidak cukup untuk membangun bisnis berkelanjutan. Kreator harus mampu mengelola perhatian tersebut menjadi hubungan jangka panjang yang menghasilkan nilai ekonomi nyata.
Membangun bisnis kreator memerlukan fondasi kokoh seperti penawaran yang jelas, pengelolaan data audiens, serta strategi ekosistem lintas kanal. Selain itu, pemahaman terhadap regulasi digital dan metrik keuangan seperti biaya akuisisi pelanggan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usaha secara mandiri di tengah perubahan teknologi.
Ketika perhatian jadi modal utama
Hai, Sobat Kreator! Baru-baru ini saya baca sebuah buku yang cukup menarik, berjudul “Attention Is the New Currency” yang disusun oleh Marissa Rachel dan Shanna Lisa. Buku tersebut menyebutkan dan membahas secara mendalam, bahwa perhatian (attention) saat ini telah menjadi “mata uang baru” di era media sosial: siapa yang bisa mengelola perhatian, dialah yang punya peluang, kredibilitas, dan pintu-pintu karier yang terbuka. Buku ini dibuka dengan satu poin penting: semua orang bisa “menggunakan konten untuk memperluas peluang”, tapi yang bertahan adalah mereka yang memperlakukan media sosial sebagai pekerjaan sungguhan, sebagai kreator yang memiliki strategi, tujuan yang jelas, dan batas yang sehat. Marissa dan Shanna menekankan bahwa perbedaan antara “orang biasa” dan “bintang media sosial” bukanlah sulap yang bisa terjadi begitu saja, tapi sistem: cara menentukan arah, menguji format, dan konsisten tanpa membakar diri sendiri. Pesan dasarnya masuk akal: perhatian dapat membuka peluang ekonomi. Namun, menyebut perhatian sebagai “mata uang” sebaiknya dipahami sebagai cara menjelaskan nilainya, bukan sebagai definisi ekonomi yang harfiah. Perhatian belum menjadi pendapatan hanya karena seseorang menonton. Agar memiliki nilai bisnis, perhatian harus bergerak menuju sesuatu yang lebih konkret: kepercayaan, permintaan informasi, percakapan, pembelian, rekomendasi, atau hubungan jangka panjang.

Beberapa tahun terakhir, sebagaimana kita sadari dan perhatikan, kita pelan‑pelan masuk ke dunia di mana perhatian orang yang tersita di media sosial, bukan hanya sekedar bonus, tapi benar‑benar bisa menjadi modal utama. Di Indonesia, kamu bisa lihat sendiri: satu video TikTok yang “nyantol” di FYP (For Your Page) bisa mengangkat nama orang biasa, menghabiskan stok sebuah UMKM, atau mengubah nasib sebuah produk hanya dalam semalam.

Dalam lanskap 2026, social commerce, gabungan media sosial dan e‑commerce, menjadi salah satu mesin pertumbuhan tercepat di Indonesia. TikTok Shop dan Shopee Live disebut sebagai kanal yang tidak bisa diabaikan oleh brand dan pelaku usaha yang ingin tumbuh agresif, karena Indonesia sudah jadi salah satu episentrum social commerce global dengan ratusan juta pengguna aktif media sosial.

Di tengah arus sebesar itu, banyak kreator akhirnya memusatkan ambisinya pada satu hal: viral. Rasanya logis kalau videomu meledak, otomatis peluangmu pun terbuka. Masalahnya, kalau kamu berhenti di viral, kamu hanya memegang perhatian sesaat tanpa mengubahnya jadi sesuatu yang lebih kokoh: data, hubungan, dan bisnis yang bisa berdiri sendiri. Di sinilah pertanyaan penting muncul: bagaimana caranya mengolah viral menjadi fondasi bisnis, bukan hanya momen yang lewat? Esai ini mengajak kamu melihat TikTok bukan lagi sekadar panggung hiburan, tapi bagian dari ekosistem bisnis kreator yang lebih luas. Kita akan bicara soal perhatian sebagai “mata uang”, jebakan ilusi viral, fondasi bisnis kreator, hingga risiko dan etika di tengah perubahan regulasi dan teknologi.

TikTok: dari panggung hiburan ke infrastruktur bisnis
Kalau kamu mundur sedikit ke masa awal TikTok, mayoritas konten adalah hiburan ringan: lipsync, dance challenge, sketsa komedi, dan meme. Fokusnya sederhana, bikin orang ketawa atau terhibur sebentar. Sekarang, feed yang muncul di layar kamu jauh lebih beragam: tip bisnis, edukasi karier, tutorial produk, review jujur, sampai cerita personal yang menyentuh sisi emosional audiens.
Di Indonesia, perubahan ini terasa jelas di perilaku belanja. Banyak orang menemukan produk baru bukan lewat TV atau billboard lagi, tapi lewat TikTok For You Page. Satu video review dari kreator rumahan dengan gaya ngomong yang alami dan apa adanya bisa lebih meyakinkan daripada iklan formal yang didesain rapi.

Fase berikutnya yang mengubah permainan adalah ketika TikTok menghubungkan konten langsung ke transaksi. TikTok Shop, sistem affiliate, dan keranjang belanja di dalam video membuat pengalaman nonton dan belanja menjadi seamless: lihat, klik, beli, tanpa harus pindah platform. Di kategori seperti fashion, kecantikan, home living, dan makanan, pola ini sudah jadi kebiasaan baru: orang tidak hanya “mencatat” merk, mereka langsung mencoba begitu merasa cocok.
Yang sering luput dari bahasan adalah lapisan ketiga di atas hiburan dan transaksi: komunitas. Ketika seseorang rutin mampir ke konten kamu, ikut live, ngobrol di komentar, atau share videomu ke teman, mereka tidak sekadar “nonton”; mereka sedang membangun relasi. Komunitas kecil yang solid sering kali lebih bernilai daripada jutaan views acak, karena merekalah yang:

- Berani coba produkmu bahkan sebelum kamu bikin promo besar-besaran.
- Memberikan feedback jujur tentang konten dan penawaranmu.
- Membela kamu saat ada salah paham atau serangan kecil.
- Jadi “sales” secara organik dengan bercerita ke lingkaran dan jaringan mereka.
TikTok menyediakan fitur: komentar, live streaming, reply video, DM, untuk memfasilitasi ini, tapi fitur tersebut hanyalah alat. Yang membuat komunitas hidup adalah kehadiranmu yang konsisten, kejujuran, dan caramu memposisikan audiens sebagai partner, bukan sekadar angka di dashboard.
Perhatian sebagai mata uang: viral itu lonjakan, bukan pondasi
Di era media sosial, perhatian seringkali diperlakukan seperti angka kosong: view, like, share. Padahal di balik angka itu ada sesuatu yang lebih penting: energi psikologis yang orang berikan ke kamu. Mereka meluangkan waktu, fokus, dan emosi untuk menyimak apa yang kamu katakan. Itulah sebabnya banyak analis menyebut perhatian sebagai “mata uang baru” di dunia digital.

Di Indonesia, konsep ini bukan teori; ia hidup dalam bentuk GMV (Gross Merchandise Value) dan statistik nyata. DataReportal memperkirakan terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025 dan sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial aktif. Angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena “identitas pengguna” tidak selalu berarti individu unik, tetapi skalanya tetap menunjukkan betapa besarnya ruang digital Indonesia. Data alat periklanan TikTok bahkan menunjukkan potensi jangkauan sekitar 180 juta pengguna dewasa di Indonesia pada akhir 2025, sedangkan Instagram sekitar 108 juta.
Perdagangan digitalnya juga besar. Momentum Works memperkirakan nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) e-commerce platform di Asia Tenggara mencapai US$157,6 miliar pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 37 persen pasar tersebut dengan estimasi GMV sekitar US$57,7 miliar. Yang menarik, sekitar 32 persen GMV e-commerce Asia Tenggara pada 2025 disebut berasal dari content commerce, yaitu transaksi yang penemuan produknya sangat dipengaruhi konten dan kreator.

Apa artinya? Setiap lonjakan perhatian di TikTok, setiap konten viral, berpotensi langsung menembus angka penjualan. Perhatian benar‑benar punya nilai ekonomi. Tapi nilai itu hanya bisa kamu tangkap kalau kamu punya sistem. Kalau tidak, viral hanya jadi kembang api: indah sebentar, lalu hilang, sementara kamu tetap berdiri di tempat yang sama.

Perhatian sebagai “mata uang baru” menuntut cara berpikir yang berbeda:
- Kamu tidak lagi mengejar view semata, tapi alur, dari melihat ke memahami, lalu ke mencoba, dan akhirnya ke loyalitas.
- Kamu tidak lagi puas dengan sekedar “rame”, kamu juga mulai bertanya “berapa banyak sih dari keramaian ini yang bisa berubah jadi hubungan jangka panjang?”
- Kamu mulai sadar bahwa value terbesar perhatian bukan pada puncaknya, tapi pada kemampuanmu mengulang dan mengelolanya.

Di titik ini, viral bukan tujuan, melainkan bahan bakar. Tanpa fondasi, bahan bakar itu hanya memercik sekali lalu padam.
Algoritma bukan mesin yang bisa “dikalahkan”
Kata algoritma sering digunakan seolah-olah ada sebuah kode rahasia yang dapat ditemukan, kemudian dieksploitasi supaya setiap konten masuk halaman rekomendasi.
Cara pandang ini terlalu sederhana.
Algoritma rekomendasi pada dasarnya adalah sistem komputasi yang mencoba menentukan konten apa yang kemungkinan relevan bagi pengguna tertentu. Karena pengguna yang berbeda akan memiliki riwayat, minat, perangkat, waktu penggunaan, dan kebiasaan yang juga berbeda, dua orang dapat membuka aplikasi yang sama dan mendapatkan susunan konten yang sangat berbeda.
YouTube, misalnya, secara terbuka menjelaskan bahwa sistem rekomendasinya mempertimbangkan personalisasi penonton dan performa konten. Riwayat tontonan, pencarian, interaksi, keputusan untuk mengabaikan sebuah video, dan kepuasan pengguna menjadi bagian dari sinyal tersebut. Bahkan YouTube mengingatkan kreator agar tidak terlalu bertanya apakah “algoritma menyukai konten saya”, tetapi lebih banyak bertanya apakah audiens memang menikmati konten tersebut.
Ini tentunya membuat konsep “menembus algoritma” kurang tepat.

Kreator memang dapat meningkatkan peluang distribusi dengan membuat topik yang relevan, pembukaan yang jelas, judul yang mudah dipahami, visual yang menarik, serta mempertahankan perhatian penonton. Namun tidak ada cara yang dapat menjamin sebuah video pasti akan “viral”.
Lebih sehat menganggap jangkauan sebagai sesuatu yang bisa dioptimalkan, bukan sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya. Perubahan cara berpikir ini penting karena membuat kita berhenti dari fokus hanya mengejar setiap tren dan sebaiknya mulai mengembangkan sistem yang lebih optimal dan berguna ketika sebuah konten hanya mendapatkan 5.000 penonton, bukan 500.000.
Tiga ilusi viral yang paling sering menjebak kreator
Mari kita breakdown tiga bentuk ilusi viral yang paling sering menjebak kreator, terutama di ekosistem TikTok Indonesia.
a) Viral tanpa penawaran: perhatian tanpa arah
Bayangkan kamu berdiri di tengah kerumunan besar, berteriak sesuatu yang membuat orang berhenti dan menatap. Mereka tertarik, tapi setelah beberapa detik mereka bertanya: “Lalu apa? Mau ke mana setelah ini?” Viral tanpa penawaran persis seperti itu. Kamu berhasil memancing perhatian, tapi tidak memberikan arah dan tujuan.
Penawaran di sini tidak selalu berarti “produk fisik mahal”. Penawaran bisa berupa:
- Kelas mini online untuk pemula di niche kamu.
- Ebook, checklist, atau template yang membantu orang mempraktikkan hal yang kamu ajarkan.
- Komunitas eksklusif dengan akses konten lebih mendalam.
- Jasa konsultasi singkat atau layanan profesional.

Tanpa penawaran, audiens hanya bisa berhenti di “like, comment, share”. Bagus untuk algoritma, lemah untuk bisnis. Kamu tidak memberi mereka cara konkret untuk melanjutkan perjalanan bersama kamu.
b) Viral tanpa data: kamu terkenal di ruang yang tidak kamu kenal pemirsanya
Bentuk ilusi kedua: kamu tahu angka view dan like, tetapi tidak tahu siapa di baliknya. Kamu tidak tahu dari kota mana mereka datang, umur berapa, topik apa yang paling memicu tindakan, dan kapan mereka paling siap mendengar penawaran.
Padahal, berbagai studi tentang TikTok Shop dan live streaming di Indonesia menekankan bahwa keputusan beli sangat dipengaruhi oleh faktor seperti kualitas produk yang terlihat, promosi (gratis ongkir, diskon), dan interaksi langsung selama live. Platform analitik lokal bahkan menyarankan lima metrik penting untuk brand: engagement live, visibilitas kata kunci, ROI kreator, tracking sentimen, dan benchmarking kompetitor.
Kalau brand saja memantau ketat data ini, masuk akal kalau kamu sebagai kreator sebaiknya juga mulai melihat kontenmu lewat kacamata data sederhana:
- Konten mana yang paling banyak mengarahkan orang ke link bio?
- Dari video mana orang paling sering bergabung ke newsletter atau WhatsApp kamu?
- Topik mana yang membuat orang bertanya lebih jauh, bukan hanya tertawa?

Tanpa data tersebut, kamu ibarat berdagang di pasar ramai tanpa pernah mencatat pelanggan. Kamu tahu pasar penuh, tapi tidak tahu siapa yang benar‑benar tertarik dan siapa yang hanya lewat. Kamu bagaikan berjalan di sebuah keramaian dengan mata tertutup, kamu tidak tahu siapa disekitarmu.
c) Viral tanpa kanal mandiri: rumah sewa, bukan punya sendiri
Ilusi ketiga adalah merasa aman di platform yang sepenuhnya di luar kendali kamu. TikTok adalah jalan besar dengan lalu lintas yang luar biasa, tapi bukan “rumah” yang kamu miliki sendiri. Setiap saat tanpa pemberitahuan, algoritmanya bisa berubah, fitur-fiturnya bisa diganti, akunmu bisa dibatasi, dan lainnya. Kanal milik sendiri bisa berupa:
- Website atau blog tempat kamu mengarsipkan konten dan ide yang memiliki nilai lebih dan diminati sepanjang masa.
- Newsletter email atau list WhatsApp yang kamu kirim secara berkala.
- Komunitas di platform yang lebih stabil dan kamu kendalikan strukturnya.
- Database audiens yang kamu simpan di luar platform (spreadsheet, CRM sederhana).

Tanpa kanal milik sendiri, setiap viral adalah tamu yang datang ke rumah orang lain. Kamu tidak bisa mengundang mereka kembali kapan saja; kamu mengandalkan “baik hati algoritma”. Dengan kanal milik sendiri, setiap viral menjadi peluang memindahkan sebagian audiens ke ruang yang kamu kelola: dari jalan besar ke rumah.
Fondasi bisnis kreator: tujuan, penawaran, data, dan ekosistem
Kalau perhatian adalah mata uang, fondasi bisnis bagi seorang kreator adalah sistem keuangan yang mengelolanya. Ada empat komponen yang perlu kamu bangun.
a) Menentukan tujuan dengan jujur
Banyak kreator memulai perjalanannya dengan tujuan kabur seperti “ingin besar” atau “ingin sukses”. Itu manusiawi, tapi terlalu abstrak. Tujuan yang lebih konkret bisa berupa:
- Menggunakan konten untuk mempromosikan bisnis atau jasa yang sudah kamu punya.
- Membangun karier full time sebagai kreator dengan sumber pendapatan beragam.
- Menjadi referensi utama di topik tertentu (misalnya keuangan, parenting, teknologi).
- Membuka pintu ke proyek lain: buku, film, musik, atau speaking.

Ketika kamu memiliki tujuan dan visi yang lebih jelas, pilihan konten jadi lebih mudah: kamu tahu topik mana yang relevan, tren mana yang layak diikuti, dan kolaborasi mana yang sejalan dengan visi kamu. Tanpa arah dan tujuan, kamu akan selalu mengejar tren terbaru tanpa tahu apakah itu mendekatkan atau menjauhkan dari hal yang kamu inginkan.
b) Merumuskan penawaran yang selaras dengan nilai kamu
Penawaran yang kuat lahir dari kombinasi tiga hal:
- Keahlian inti: hal yang kamu lakukan dengan mudah tapi orang lain kesulitan (misalnya menjelaskan topik rumit dengan bahasa sederhana).
- Transformasi yang kamu berikan: apa yang berubah dalam hidup audiens setelah mengikuti kamu (lebih paham, lebih berani, lebih tenang, lebih kreatif).
- Format nilai: cara kamu mengemas transformasi itu (kursus, layanan, produk digital, paket konsultasi, dsb).

Ketika penawaran tersusun, konten di TikTok bukan lagi tujuan akhir, tapi pintu masuk. Kamu tahu ke mana ingin mengarahkan orang yang termotivasi, terdorong dan akan “klik” dengan cara kamu melihat dunia.
c) Membangun sistem data audiens sederhana tapi konsisten
Kamu tidak butuh dashboard super kompleks untuk mulai; langkah kecil sudah cukup:
- Menggunakan link berbeda untuk setiap kampanye sehingga kamu bisa melihat sumber traffic.
- Mengajak orang yang paling engaged untuk mengisi formulir singkat (minat, kebutuhan, tujuan) demi bonus konten.
- Menyimpan semuanya di spreadsheet atau tool CRM sederhana yang bisa kamu cek secara berkala.

Perlahan, kamu akan mulai dapat melihat pola: konten yang mana yang mengundang calon pembeli, mana yang mengundang calon peserta kelas, mana yang lebih cocok untuk membangun komunitas. Dan itulah saatnya perhatian berubah dari angka abstrak menjadi data yang bisa kamu gunakan untuk mengambil keputusan.
d) Merancang ekosistem lintas kanal
Di Indonesia, strategi yang banyak direkomendasikan untuk brand dan pelaku usaha adalah membangun ekosistem yang menggabungkan website, marketplace, social commerce, dan WhatsApp. Dalam skala kreator, pola ini tetap relevan. Rutenya bisa seperti ini:
- TikTok: tempat orang pertama kali menemukanmu atau usahamu, TikTok sebagai mesin discovery dan interaksi yang cepat saat ini untuk banyak kalangan.
- Media Sosial lainnya: selain juga sebagai mesin discovery, berbagai media sosial lainnya seperti Facebook Page, LinkedIn Page dan Instagram dapat menjadi ruang untukmu membangun kepercayaan dan kredibilitas, mulai berjejaring dan membangun hubungan yang lebih intens. Alokasikan waktu menempatkan portfolio dan berbagai proyek yang pantas kamu jadikan contoh keahlianmu.
- Website/landing page: ruang untuk menjelaskan penawaran dengan tenang, menampilkan testimoni, dan menggabungkan informasi.
- Newsletter/WhatsApp: jalur komunikasi rutin dan lebih personal.
- Marketplace/platform pembayaran: tempat transaksi terjadi dengan sistem yang dipercaya audiens.

Dengan ekosistem seperti ini, tiap viral tidak berakhir di FYP; ia mengalir ke rute yang kamu rancang sendiri.
Mengapa banyak penonton tidak pernah menjadi pelanggan?
Kita asumsikan seseorang yang sedang menonton video pendek sambil menunggu makanan datang. Ia tidak sedang mencari produk. Ia hanya membuka aplikasi untuk mengisi waktu.
Kemudian muncul video sebuah merek kopi. Videonya menarik. Ia menonton sampai selesai dan mungkin memberikan tanda suka. Lalu muncul kalimat, “Klik link di bio untuk membeli.” Untuk melakukan pembelian, pengguna itu harus menghentikan kebiasaannya menonton, membuka profil, mencari tautan, membuka halaman lain, memahami penawaran, memasukkan data, memilih produk, lalu membayar.
Setiap langkah tambahan langkah seperti itu disebut friction atau friksi, yaitu hambatan-hambatan kecil yang membuat sebuah tindakan membutuhkan lebih banyak waktu, perhatian, atau usaha. Di sinilah terjadi apa yang dalam pemasaran disebut conversion funnel, atau alur konversi. Conversion berarti perubahan dari satu tindakan ke tindakan berikutnya, misalnya penonton menjadi pengunjung profil, pengunjung menjadi prospek, dan prospek menjadi pembeli.

Tidak ada angka universal bahwa “95 persen penonton pasti hilang”. Tingkat konversi sangat berbeda berdasarkan industri, harga produk, kualitas trafik, perangkat pengguna, desain halaman, hingga seberapa besar niat membeli pengguna sejak awal. Yang lebih berguna adalah mengukur alurnya sendiri.
Misalnya sebuah video memperoleh 10.000 penonton. Dari jumlah tersebut, 800 membuka profil. Sebanyak 240 membuka halaman produk. Tujuh puluh dua orang memberikan kontak, dan 12 akhirnya membeli. Sekarang kita mempunyai informasi yang dapat dianalisis. Jika banyak orang menonton tetapi hampir tidak ada yang membuka profil, masalahnya mungkin terletak pada relevansi penawaran atau call-to-action (CTA), yaitu ajakan melakukan tindakan. Jika banyak orang membuka halaman tetapi tidak melanjutkan, masalahnya mungkin halaman lambat, informasi tidak jelas, atau pengguna diminta mengisi terlalu banyak data.
Karena itulah metrik seperti jumlah penonton dan likes tetap berguna, tetapi tidak cukup.
Jangan membuat pengguna bekerja lebih keras daripada yang diperlukan
Salah satu pelajaran penting dari desain digital adalah bahwa tindakan yang mudah dilakukan biasanya mempunyai peluang lebih besar untuk diselesaikan.
BJ Fogg merumuskannya melalui Fogg Behavior Model. Menurut model tersebut, sebuah perilaku terjadi ketika motivasi, kemampuan, dan pemicu atau prompt hadir pada waktu yang sama. Jika kita ingin orang melakukan sesuatu, salah satu pendekatan yang masuk akal adalah membuat tindakan tersebut lebih mudah.
Namun prinsip ini tidak seharusnya diterjemahkan menjadi usaha “memanipulasi psikologi konsumen”.

Sebagai contoh, meminta calon pelanggan menjawab satu pertanyaan sederhana sebelum memberikan rekomendasi produk dapat menjadi pengalaman yang baik jika pertanyaan itu benar-benar membantu mereka. Ini sering disebut micro-commitment atau komitmen kecil.
Yang perlu dihindari adalah sengaja mengeksploitasi bias psikologis supaya pengguna merasa terjebak melanjutkan proses. Praktik desain semacam itu semakin banyak dibahas sebagai dark patterns, yaitu rancangan antarmuka yang menyesatkan, mempersulit pilihan, menyembunyikan informasi, atau mendorong seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya tidak diinginkan. OECD memperingatkan bahwa praktik tersebut dapat merugikan konsumen dan mengikis kepercayaan.
Strategi yang baik seharusnya mengurangi friksi tanpa mengurangi kebebasan pengguna.
Formulir pendaftaran, misalnya, sebaiknya hanya meminta data yang memang diperlukan saat itu. Nama, nomor WhatsApp, alamat lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, penghasilan, dan berbagai data lain tidak perlu dikumpulkan sekaligus hanya karena sistem mampu menyimpannya. Selain lebih nyaman, pendekatan tersebut juga lebih masuk akal dari sisi privasi.
Dari “tautan di bio” menuju jalur yang sesuai konteks
Tautan di bio tidak salah. Masalahnya muncul ketika semua kebutuhan audiens dipaksa melalui jalur yang sama. Jika tujuan sebuah video atau konten tertentu adalah mendorong seseorang bertanya tentang produk, misalnya, WhatsApp click-to-chat dapat menjadi pilihan praktis. WhatsApp secara resmi menyediakan format wa.me yang memungkinkan pengguna membuka percakapan tanpa terlebih dahulu menyimpan nomor, termasuk opsi pesan yang sudah terisi.
Hal yang perlu diluruskan adalah bahwa tautan seperti ini bukan teknologi ajaib yang selalu “memaksa” ponsel melewati in-app browser. Perilakunya tetap bergantung pada perangkat, aplikasi, dan pengaturan pengguna. Keuntungannya lebih sederhana: jumlah keputusan yang harus dibuat pengguna dapat dikurangi.
Prinsip yang sama berlaku untuk lead magnet, yaitu sesuatu yang diberikan sebagai imbalan karena seseorang bersedia melanjutkan hubungan dengan sebuah bisnis.

Dokumen PDF 40 halaman bukan otomatis “ketinggalan zaman”. Jika orang memang memerlukan panduan mendalam, PDF bisa sangat berguna. Tetapi untuk masalah sederhana, alat yang lebih cepat mungkin lebih tepat.
Seorang konsultan keuangan, misalnya, dapat menawarkan kalkulator anggaran. Toko tanaman dapat memberikan panduan satu halaman tentang jadwal penyiraman. Penjual kopi dapat memberikan tabel sederhana mengenai rasio kopi dan air. Kreator karier dapat menyediakan templat CV.
Dalam konteks ini sering muncul istilah micro-utility, yaitu alat kecil yang menyelesaikan satu kebutuhan secara cepat. Ukuran atau format bukan hal utama. Yang terpenting adalah manfaatnya.
Strategi konten: belajar dari tren, tapi menjaga suara sendiri
Di TikTok, hampir semua hal yang bekerja dan memiliki kecenderungan viral akan segera ditiru ratusan kali, mulai dari hook, format, gaya editing, dan lainnya. Ini bukan hal buruk; justru banyak kreator yang tumbuh karena berani belajar dari pola yang terbukti jalan. Namun, ada perbedaan besar antara belajar dari tren dan menghilang di dalam tren. Belajar dari tren berarti:
- Mengamati struktur konten yang berhasil: bagaimana hook dibuka, bagaimana cerita dibangun, bagaimana CTA (Click to Action) disisipkan.
- Mengadaptasi struktur itu dengan isi yang relevan untuk audiens kamu, masalah sehari‑hari, budaya lokal, humor yang mereka mengerti.
- Menggunakan audio atau format populer, tapi mengisi visual dan narasi dengan sudut pandangmu sendiri, bukan sekadar duplikat.

Menghilang di dalam tren terjadi ketika:
- Kamu memaksa diri mengikuti semua tren, bahkan yang tidak punya hubungan dengan nilai atau tujuanmu.
- Kamu meniru gaya orang lain sampai lupa bagaimana cara kamu sendiri bercerita.
- Kamu membiarkan algoritma dan komentar menentukan sepenuhnya isi kontenmu.
Di tingkat global dan lokal, pola yang paling bertahan sering datang dari kreator yang berani menjadikan tren sebagai “bahan baku” untuk eksperimen, bukan sebagai “aturan baku”. Mereka belajar dari berbagai konten, ritme dan tren yang sedang ramai, tapi tetap menulis dengan kosakata sendiri.
Viralitas baru bernilai ketika ekonomi bisnisnya masuk akal
Ketika bisnis mulai tumbuh, ada dua angka yang jauh lebih penting daripada jumlah pengikut: Customer Acquisition Cost (CAC) dan Customer Lifetime Value (LTV). CAC atau biaya akuisisi pelanggan adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pelanggan baru. Jika sebuah bisnis menghabiskan Rp3 juta untuk iklan, perangkat lunak, dan aktivitas akuisisi lalu memperoleh 30 pelanggan baru, CAC sederhananya adalah Rp100.000 per pelanggan.
LTV atau nilai pelanggan sepanjang hubungan memperkirakan seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan pelanggan selama berhubungan dengan bisnis. Perhitungannya idealnya memperhatikan margin, pembelian berulang, biaya pelayanan, dan periode hubungan, bukan sekadar menjumlahkan omzet. Misalnya pelanggan pertama membeli produk Rp150.000 dengan keuntungan kontribusi Rp40.000. Kalau ia hanya membeli sekali, mengeluarkan CAC Rp100.000 jelas sulit dipertahankan. Namun jika rata-rata pelanggan membeli enam kali selama dua tahun dan setiap transaksi memberikan kontribusi keuntungan Rp40.000, hubungan ekonominya berubah.

Karena itulah rasio LTV terhadap CAC sering digunakan untuk melihat kesehatan akuisisi pelanggan. Rasio sekitar 3:1 sering disebut sebagai patokan praktis yang sehat, tetapi angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai benchmark atau acuan, bukan hukum bisnis. Jenis usaha, margin, arus kas, kecepatan pembayaran kembali biaya akuisisi, dan kebutuhan pertumbuhan dapat membuat rasio ideal berbeda.
Bagi usaha kecil, pelajar bisnis, atau kreator yang baru mulai menjual, tidak ada kewajiban memiliki CRM mahal. CRM adalah Customer Relationship Management, yaitu sistem untuk mengelola informasi dan interaksi pelanggan. Pada tahap awal, sebuah spreadsheet yang rapi kadang sudah cukup.
Teknologi seharusnya mengikuti kebutuhan bisnis, bukan sebaliknya.
Database pelanggan bukan berarti kita “memiliki” orang tersebut
Di sinilah gagasan tentang owned media atau kanal milik sendiri perlu diberi batas yang jelas. Daftar email, situs web, CRM, dan daftar pelanggan memang mengurangi ketergantungan terhadap distribusi algoritmik. Namun menyebutnya “kedaulatan digital penuh” juga berlebihan. Nomor WhatsApp pelanggan bukan milik bisnis dalam arti bebas digunakan sesuka hati. Email bukan izin permanen untuk mengirim promosi. Bahkan situs web tetap bergantung pada penyedia domain, hosting, pembayaran, dan berbagai layanan pihak ketiga. Yang sebenarnya dibangun adalah hubungan langsung yang lebih dapat dikendalikan, bukan kemerdekaan total dari platform.
Di Indonesia, hal ini juga menyangkut hukum.

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mewajibkan adanya dasar yang sah untuk pemrosesan data. Jika menggunakan persetujuan, tujuan pemrosesan harus dijelaskan dan persetujuan harus dapat dibuktikan. Undang-undang juga menekankan pemrosesan yang terbatas, spesifik, sah, dan transparan.
WhatsApp Business bahkan lebih eksplisit. Bisnis hanya boleh menghubungi seseorang ketika orang tersebut telah memberikan nomor telepon dan memberikan izin atau opt-in untuk menerima pesan berikutnya. Permintaan berhenti menerima pesan juga harus dihormati. Jadi, membangun database yang baik bukan kegiatan mengumpulkan nomor sebanyak mungkin. Lebih tepat membangun daftar orang yang memang memahami apa yang mereka setujui dan masih ingin berhubungan dengan bisnis tersebut.
Seribu kontak yang benar-benar tertarik biasanya lebih berguna daripada puluhan ribu nomor yang tidak mengingat dari mana bisnis memperoleh data mereka. Masih inget khan soal “True 1000 Fans” yang sempet kita bahas di artikel-artikel sebelumnya terkait musisi/produser?
Automasi sebaiknya muncul setelah pola bisnis mulai terlihat
Setelah volume pelanggan meningkat, tugas manual mulai berulang. Pada tahap ini automasi dapat membantu. Misalnya sebuah toko menjual produk yang biasanya habis dalam 30 sampai 45 hari. Setelah mempunyai cukup data pembelian, toko dapat memperkirakan waktu yang wajar untuk menawarkan pembelian ulang. Sistem semacam ini biasa disebut replenishment reminder atau pengingat pengisian ulang. Namun jangan langsung menyebutnya “AI prediktif” hanya karena pesan dikirim otomatis.
Jika sistem hanya mengirim pesan hari ke-40 setelah pembelian, itu adalah automasi berbasis aturan. Jika sistem benar-benar belajar dari pola pembelian masing-masing pelanggan dan menyesuaikan perkiraan waktu habis, barulah istilah prediktif lebih masuk akal.

Automasi lainnya dapat berupa drip campaign, yaitu rangkaian pesan yang dikirim secara bertahap. Misalnya setelah seseorang mengunduh panduan, ia mendapatkan pesan pertama berisi panduan tersebut, beberapa hari kemudian mendapat contoh penggunaannya, kemudian ditawari produk apabila memang relevan. Tujuannya bukan membombardir calon pelanggan. Tujuannya mengurangi pekerjaan berulang sambil menjaga komunikasi tetap berguna.
Lanskap Indonesia juga dibentuk regulasi, bukan hanya teknologi
Membahas social commerce Indonesia pada 2026 tanpa membahas regulasi akan menghasilkan gambaran yang tidak lengkap.
Permendag Nomor 31 Tahun 2023 membedakan model perdagangan elektronik, termasuk social commerce. Salah satu aturan pentingnya adalah platform yang dikategorikan sebagai social commerce hanya dapat memfasilitasi promosi atau penawaran dan tidak boleh sekaligus memfasilitasi pembayaran transaksi pada sistem elektronik social commerce tersebut.
Perubahan tersebut menjadi salah satu latar belakang restrukturisasi TikTok Shop di Indonesia. TikTok kemudian mengakuisisi 75,01 persen saham Tokopedia. Pada 2025, KPPU memberikan persetujuan bersyarat terhadap transaksi itu dan menetapkan sejumlah kewajiban terkait persaingan, UMKM, pembayaran, logistik, serta kebebasan penjual mempromosikan produk di platform lain. Pengawasan dijadwalkan berlangsung hingga 17 Juni 2027.

Artinya, strategi digital tidak dapat hanya dibangun berdasarkan fitur yang tersedia hari ini. Aturan perdagangan, persaingan usaha, privasi, perpajakan, dan kebijakan platform dapat berubah. Sistem bisnis yang sehat justru perlu cukup fleksibel untuk menghadapi perubahan tersebut.
Social commerce Indonesia: menghubungkan TikTok dengan kanal lain
Arus social commerce di Indonesia 2026 digambarkan sebagai arena yang didominasi dua kekuatan utama: TikTok Shop dan fitur belanja di platform lain seperti Shopee Live dan Instagram Shopping. Studi tren e‑commerce menyarankan bahwa pelaku usaha dan brand yang ingin tumbuh agresif tidak bisa hanya mengandalkan satu kanal; mereka perlu mengintegrasikan beberapa saluran sekaligus (omni-channel). Buat kreator, ini punya implikasi strategis:
- TikTok menjadi mesin discovery dan interaksi cepat, tempat kamu membangun kepercayaan (trust) dan rasa “kenal” dalam waktu singkat.
- Marketplace dan platform belanja menjadi “panggung transaksi” yang sudah dipercaya audiens Indonesia untuk urusan pembayaran, pengiriman, dan perlindungan konsumen.
- Website atau blog memegang peran sebagai arsip ide dan identitas, tempat kamu bisa menjelaskan hal yang tidak muat di video pendek dan atau di postingan media sosial lainnya.
- WhatsApp dan email menjadi jalur percakapan yang lebih intim, tempat tanya jawab, konsultasi, atau follow‑up keranjang yang belum checkout.
Beberapa brand besar di Indonesia sudah mempraktikkan funnel seperti ini: orang melihat produk di live TikTok atau Shopee, menambahkannya ke keranjang, lalu menerima pesan personal lewat WhatsApp yang menawarkan bantuan atau penjelasan tambahan sebelum membeli. Kamu mungkin belum di skala itu, tapi logika yang sama bisa kamu adaptasi: setiap konten TikTok berpotensi menjadi langkah pertama dari rangkaian interaksi lintas kanal yang kamu rancang.
Dengan pola ini, TikTok tidak lagi kamu letakkan sebagai “segala‑galanya”, melainkan sebagai pintu utama, penting, tapi bukan satu‑satunya jalan masuk ke ruangan utama.
Kreator sebagai mitra strategis: dari “pembawa trafik” ke penggerak keputusan
Di Indonesia, angka menunjukkan bahwa rekomendasi kreator benar‑benar mempengaruhi keputusan pembelian atau penggunaan jasa dan layanan. Beberapa laporan menyebut bahwa sekitar 76% konsumen Indonesia pernah membeli produk berdasarkan rekomendasi kreator atau influencer, dan belanja iklan untuk kampanye berbasis kreator terus meningkat (UGC: User Generated Content).
Penelitian tentang TikTok Shop di Indonesia menemukan bahwa kreator berperan sebagai “jembatan” antara fitur produk (kualitas, gratis ongkir, promo) dan keputusan beli: mereka mengemas informasi itu dalam bentuk cerita, demonstrasi, atau testimoni yang terasa dekat dengan kehidupan sehari‑hari audiens. Laporan lain menyoroti bahwa micro influencer, akun dengan pengikut puluhan ribu, sering memiliki engagement rate yang lebih tinggi dan ROI per rupiah yang lebih baik, karena hubungan mereka dengan audiens lebih personal dan spesifik.
Di titik ini, kamu sebagai kreator bukan lagi sekadar “pembawa trafik” ke halaman produk; kamu bagian dari strategi pengambilan keputusan. Itulah mengapa semakin banyak brand dan pelaku usaha mulai menghitung ROI kreator secara serius: berapa banyak penjualan dari setiap konten, dari setiap live, dari setiap kode promo.
Kalau brand menghitung pengaruhmu sedetail itu, masuk akal kalau kamu juga mulai menghitung pengaruh dirimu terhadap bisnismu sendiri:
- Berapa banyak leads (orang yang masuk ke daftar kontak atau kanal milikmu) dari tiap seri konten?
- Konten mana yang benar‑benar menggerakkan orang untuk mencoba penawaranmu, bukan sekadar berinteraksi di komentar?
- Kolaborasi mana yang tidak hanya membawa view, tapi membawa orang baru ke ekosistemmu?
Dengan cara ini, kamu memposisikan diri bukan hanya sebagai kreator yang menunggu brand datang, tapi sebagai pemilik bisnis yang paham nilai perhatiannya sendiri.
Batas, kesehatan kreatif, dan masa depan di tengah regulasi dan AI
Semakin besar peran TikTok dan kreator dalam ekonomi kreatif Indonesia, semakin banyak pihak yang memperhatikan: brand, media, dan tentu saja regulator. Indonesia sedang menyiapkan pembaruan besar dalam hukum hak cipta, termasuk bagaimana karya digital dan karya yang melibatkan AI akan diatur. Rancangan yang dibahas mencakup hal‑hal seperti:
- Pengakuan hak untuk karya berbantuan AI selama ada kontribusi manusia yang signifikan.
- Kewajiban transparansi (disclosure) ketika konten dibuat atau banyak dibantu oleh sistem AI.
- Pembatasan terhadap peniruan sistematis gaya kreator atau seniman, terutama oleh model generatif.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyusun pedoman khusus penggunaan AI untuk berbagai subsektor ekonomi kreatif, dari konten digital, gim, film, sampai seni rupa dengan tujuan memastikan teknologi ini digunakan secara bertanggung jawab dan tidak merugikan pelaku kreatif.
Untuk kamu sebagai kreator, ini membawa beberapa konsekuensi praktis:
- Kamu perlu mulai membiasakan diri mendokumentasikan proses kreatif: seberapa jauh alat bantu digital terlibat, bahan apa yang kamu gunakan, dan bagaimana transformasinya.
- Kamu perlu sadar bahwa cara kamu mengelola kontrak, hak cipta, dan kolaborasi akan semakin penting, bukan hanya dalam kacamata etika, tapi juga legal.
- Kamu punya kesempatan untuk memposisikan diri sebagai kreator yang transparan dan berintegritas: jelas tentang sponsor, jelas tentang penggunaan alat, dan jelas tentang batas yang kamu tetapkan.
Di atas semua itu, ada satu lapisan yang tidak boleh diabaikan: kesehatan kreatif dan mental. Tekanan untuk selalu tampil, selalu relevan, selalu produktif bisa dengan mudah menggeser fokusmu dari “ingin membangun sesuatu yang bermakna” menjadi “ingin tetap terlihat”. Di titik inilah memiliki batasan yang sehat dan benar menjadi penting, jam kerja yang kamu tentukan sendiri, ruang pribadi yang tidak kamu bagikan (privasi), dan kemampuan berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.
Perhatian memang bagaikan mata uang, tapi kamu tetap punya hak penuh atas bagaimana kamu ingin menukar dan menggunakannya.

Mengubah viral menjadi perjalanan, bukan hanya momen
Di Indonesia 2026, TikTok, kreator, dan social commerce sudah menjadi bagian integral dari ekonomi kreatif. Platform yang dulu kita anggap sekadar tempat hiburan kini menjadi jalur discovery, transaksi, dan pembentukan komunitas yang mempengaruhi cara orang belajar, belanja, dan memaknai keseharian.
Di tengah semua itu, konten viral tetap memegang peran penting: ia membuka pintu, mengangkat nama, dan memberi momentum. Tapi viral tidak pernah cukup kalau berdiri sendirian. Tanpa tujuan yang jelas, penawaran yang konkret, data audiens, kanal milik sendiri, dan ekosistem lintas kanal (omni-channel), viral hanya akan menjadi cerita masa lalu: “dulu pernah trending”, tanpa jejak jangka panjang. Sebaliknya, ketika kamu:
- Menjadikan perhatian sebagai mata uang yang kamu kelola, bukan sekadar angka yang kamu kumpulkan.
- Membangun fondasi bisnis kreator yang kokoh di belakang layar: penawaran, data, kanal sendiri.
- Belajar dari tren tanpa kehilangan suara sendiri.
- Menghubungkan TikTok dengan rumah digital dan jalur komunikasi yang kamu kendalikan.
- Menjaga batas, kesehatan kreatif, dan integritas di tengah laju teknologi dan regulasi.
Maka setiap viral akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih baik, bukan akhir. Setiap lonjakan view mungkin dapat menjadi peluang menambah anggota komunitas, pelanggan, pembaca, atau pengguna karyamu yang lainnya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah lagi “bagaimana caranya supaya viral?”, melainkan “kalau suatu saat saya viral, apa yang sudah saya siapkan supaya perhatian itu bisa menjadi perjalanan yang berarti, buat saya dan buat audiens saya?”
Kalau kamu bisa mulai menjawab pertanyaan itu hari ini, kamu ngga lagi sekadar bermain di TikTok; kamu sedang membangun bisnis kreator yang punya masa depan.
Semangat berkarya dan terus berusaha memberi manfaat nyata!
Glosarium istilah
- Attention economy: Konsep bahwa perhatian manusia adalah sumber daya langka yang diperebutkan oleh media, platform, brand, dan kreator.
- Currency (mata uang): Dalam konteks ini, perhatian dianggap sebagai “mata uang” karena bisa ditukar dengan peluang, penjualan, dan kepercayaan.
- TikTok Shop: Fitur social commerce di TikTok yang memungkinkan pengguna membeli produk langsung dalam aplikasi, melalui video, live, atau halaman produk.
- Social commerce: Model belanja yang menggabungkan media sosial dan e‑commerce, di mana proses discovery, interaksi, dan transaksi terjadi di dalam atau melalui platform sosial.
- GMV (Gross Merchandise Value): Total nilai barang yang terjual melalui platform dalam periode tertentu, sering dipakai untuk mengukur skala e‑commerce atau social commerce.
- Creator economy: Ekosistem ekonomi yang lahir dari aktivitas kreator konten, termasuk pendapatan dari brand deal, penjualan produk, membership, dan platform digital.
- Micro influencer: Kreator atau akun dengan jumlah pengikut yang relatif kecil (misalnya 10–100 ribu), tetapi punya engagement tinggi dan audiens yang lebih spesifik.
- ROI (Return on Investment): Rasio antara keuntungan atau hasil yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan; dalam konteks kreator, sering diukur sebagai pendapatan per rupiah yang dibayar ke kreator.
- FYP (For You Page): Halaman utama rekomendasi TikTok yang menampilkan konten yang dipilih algoritma sesuai minat dan perilaku pengguna.
- CTA (Call to Action): Instruksi atau ajakan spesifik dalam konten, misalnya “klik link di bio”, “daftar sekarang”, atau “ikut newsletter”.
- UGC (User Generated Content): Konten yang dibuat pengguna (bukan dibuat langsung oleh brand), sering dimanfaatkan sebagai materi promosi karena dianggap lebih autentik.
- PR package: Kiriman produk atau hadiah dari brand kepada kreator, biasanya sebagai bentuk kerja sama promosi atau niat baik.
- Burnout: Kondisi kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kerja yang berkepanjangan, dalam konteks kreator sering terjadi karena tuntutan konten yang terus-menerus.
- Networking: Aktivitas membangun hubungan profesional dengan kreator lain, brand, atau pihak industri yang relevan demi saling mendukung dan membuka peluang.
- Funnel: Rangkaian tahap perjalanan audiens dari pertama kali mengenalmu (awareness) sampai menjadi pelanggan atau anggota komunitas (conversion dan retention).
Sumber & Referensi
Beberapa sumber utama yang digunakan dalam esai ini:
- Analisis social commerce Indonesia 2026 – Colabs.id
https://www.colabs.id/blog/indonesia-e-commerce-trends-2026-social-commerce - Panduan strategi TikTok Shop dan Shopee Live – Hashmeta
https://hashmeta.com/id/posts/social-commerce-tiktok-shop-shopee-live-strategi-brand-indonesia-2026 - TikTok Shop market share Indonesia 2026 – Magpie IQ
https://magpieiq.com/insights/tiktok-shop-market-share-indonesia/ - TikTok Shop Indonesia market share dan tren – Magpie IQ
https://magpieiq.com/insights/tiktok-shop-indonesia-2026/ - Analitik TikTok Shop untuk brand Indonesia – Intura
https://intura.co/en/blog/tiktok-shop-analytics-indonesia-brands-metrics-2026 - Pertumbuhan TikTok Shop di Asia Tenggara – Digital in Asia
https://digitalinasia.com/tiktok-shop-southeast-asia-growth-10x/ - Data influencer marketing Indonesia 2026 – Epilog Creative
https://www.epilogcreative.com/insights/influencer-marketing-indonesia-statistics-2026 - Laporan pergeseran strategi influencer marketing – AnyMind Group
https://anymindgroup.com/id/news/press-release/im-report-2026/ - Studi peran influencer TikTok Shop – Jurnal ATT
https://att.aptisi.or.id/index.php/att/article/download/376/243 - Studi keputusan beli di TikTok live streaming – JCSAM
https://jurnal.integrasisainsmedia.co.id/index.php/JCSAM/article/download/253/207 - Draft pembaruan UU Hak Cipta Indonesia terkait konten digital dan AI – Reuters
https://www.reuters.com/legal/litigation/indonesias-copyright-rewrite-puts-google-ai-platforms-notice-2026-07-17/ - Rencana panduan AI untuk sektor ekonomi kreatif – OpenGov Asia
https://opengovasia.com/indonesia-prepares-ai-guidelines-for-creative-economy-sectors/ - Buku Attention Is the New Currency – BenBella Books (Marissa Rachel & Shanna Lisa). https://benbellabooks.com/shop/attention-is-the-new-currency/
- Digital 2026: Indonesia, DataReportal: data internet dan media sosial Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia
- Momentum Works, Ecommerce in Southeast Asia 2026: perkembangan GMV e-commerce Asia Tenggara pada 2025. https://thelowdown.momentum.asia/new-report-southeast-asias-platform-ecommerce-reaches-us157-6b-in-2025-with-top-platforms-expanding-share-to-98-8/
- YouTube Recommendation System: penjelasan resmi mengenai personalisasi dan performa konten. https://support.google.com/youtube/answer/16533387
- Fogg Behavior Model: kerangka Motivation, Ability, Prompt. https://www.behaviormodel.org/
- OECD Dark Commercial Patterns: penjelasan mengenai desain digital manipulatif dan perlindungan konsumen. https://www.oecd.org/en/topics/sub-issues/dark-commercial-patterns.html
- UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi: landasan pemrosesan, persetujuan, transparansi, keamanan, dan hak subjek data. https://jdih.komdigi.go.id/produk_hukum/view/id/832/t/crc32/
- Kebijakan Berkirim Pesan WhatsApp Business: ketentuan izin atau opt-in dan komunikasi bisnis. https://business.whatsapp.com/policy/preview?lang=id_ID
- WhatsApp Click to Chat: dokumentasi resmi tautan wa.me dan pesan pra-isi. https://faq.whatsapp.com/5913398998672934
- Permendag Nomor 31 Tahun 2023: kerangka perdagangan melalui sistem elektronik dan social commerce. https://www.kemendag.go.id/index.php/berita/siaran-pers/terbitkan-permendag-nomor-31-tahun-2023-mendag-zulkifli-hasan-pemerintah-bangun-ekosistem-perdagangan-digital-adil-dan-sehat
- KPPU, Akuisisi Tokopedia oleh TikTok Nusantara: persetujuan bersyarat dan pengawasan hingga Juni 2027. https://kppu.go.id/berita/kppu-keluarkan-penetapan-persetujuan-bersyarat-atas-akuisisi-tokopedia-oleh-tiktok-nusantara
- TikTok AI-Generated Content: ketentuan pelabelan konten AI di TikTok. https://support.tiktok.com/id/using-tiktok/creating-videos/ai-generated-content