Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Antara Akar Tradisi, Ekonomi Kreatif, dan Teknologi

Kalau kamu perhatiin dan menyimak berbagai berita terkait seni dan budaya Indonesia belakangan ini, ada yang berubah drastis: batik ngga lagi cuma buat upacara formal, keramik lokal jadi desain interior yang artistik yang untuk anak sekarang istilahnya “instagramable”, dan pameran seni malah jadi ajang bisnisan yang rame dengan ribuan pengunjung. Bukan kebetulan. Indonesia saat ini lagi ngalamin “gelombang baru” dalam seni rupa dan kriya, sesuatu yang menggabungkan akar tradisi, ambisi ekonomi, dan sentuhan teknologi modern. Dan cerita ini penting kamu pahami, apalagi kalau kamu seorang kreator, pegiat kreatif, seni rupa atau pelaku industri kreatif.

Ekonomi Kreatif: Dari Pinggiran ke Pusat Pertumbuhan Nasional

Sebelum masuk detail, perlu dipahami konteksnya dulu. Tahun 2025 ini, pemerintah Indonesia resmi menempatkan ekonomi kreatif sebagai “mesin baru” pertumbuhan ekonomi nasional. Bukan hanya slogan. Data BPS menunjukkan sekitar 27,4 juta tenaga kerja terserap di sektor ekonomi kreatif, itu hampir 19% dari total tenaga kerja nasional. Ekspor ekonomi kreatif tembus lebih dari USD 12 miliar per November 2025, melampaui target tahunan. Angka, angka ini bukan sekadar statistik membosankan; ini menunjukkan bahwa karya tangan, desain, dan ide kreatif sekarang diakui sebagai aset ekonomi nasional yang serius.

Tapi di balik semua angka statistik ini ada cerita yang lebih menarik: transformasi fundamental tentang bagaimana seni, kriya, dan budaya lokal tidak lagi terpisah-pisah, melainkan makin terkoneksi dalam satu ekosistem yang hidup dan saling memperkuat.

Kalau kamu males atau cepet lelah baca tulisan panjang ini, kamu bisa simak ringkasan berupa Podcast berikut ini.

Kecenderungan 1: Penguatan Basis Budaya Lokal – Material, Motif, Narasi

Kalau dulu seni rupa kontemporer dianggap “Barat” dan kriya lokal dianggap “tradisional,” tahun 2025 ini batasan itu udah semakin sirna dan kabur. Seniman muda dan pelaku kriya mulai menyikapi dan mengangkat material serta motif lokal bukan lagi sebagai “nostalgia”, tapi sebagai argumen visual yang powerful dan keunggulan kompetitif.

Batik Kontemporer: Dari Formal ke Everyday Wear, OOTD

Ambil contoh batik. UNESCO telah mengakui batik sebagai warisan budaya dunia sejak 2009, tapi selama bertahun-tahun status itu ngga banyak berubah kesehariannya, batik masih dianggap pakaian formal atau koleksi museum. Sekarang? Ceritanya beda.

Batik kontemporer di tahun 2025 ini hadir dengan inovasi yang lebih berani. Desainer muda menggabungkan motif tradisional dengan warna neon, desain minimalis, bahkan kolaborasi dengan streetwear dan gaya kasual yang modern. Ellena Fashion dari Banten tampil memukau di Asia Fashion Show 2025 dengan batik kontemporer yang “fresh”, bukan kuno. Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) di ISI Surakarta mengkhususkan fokusnya pada motif batik sederhana dan minimalis, dirancang supaya mudah diterima generasi muda. Hasilnya? Batik muda jadi viral di TikTok dengan hashtag #BatikKontemporer2025.

Lebih mendalam, ada riset serius tentang nilai estetika batik kontemporer: bagaimana batik berhasil mempertahankan filosofi tradisional sambil mengadopsi inovasi desain yang sesuai dengan permintaan pasar global. Peneliti menemukan bahwa batik kontemporer menggunakan strategi “hibridisasi budaya”, memadukan elemen tradisional dengan desain modern untuk menciptakan produk yang unik dan kompetitif. Hasilnya? Batik jadi jembatan antara pelestarian budaya lokal dan tuntutan pasar global.

Tapi ini bukan sekadar desain sembarangan. Riset estetika kritis pada motif batik menunjukkan bahwa seniman lokal (misalnya Muhammad Farizky Afdillah dengan batik Joyo Harjo) tetap menjagakan nilai budaya di tengah arus komodifikasi industri. Setiap motif, baik inspirasi pohon pala Palawan, bunga Edelweiss dari gunung, atau akulturasi budaya Tionghoa, Indonesia di Malang, memiliki riset mendalam tentang filosofi dan konteks lokal.

Material Lokal sebagai Bahasa Kontemporer

Selain batik, ada pergeseran menarik dalam penggunaan material lokal. Pameran ARTSUBS 2025 di Surabaya mengusung tema “Material Ways”, dimana material disikapi dan digunakan bukan sekadar sebagai media, tapi juga menjadi bahasa utama untuk bicara soal kota industri, modernitas, dan relasi manusia dengan materi. Seniman muda menggali keramik terakota dengan iron oksida, mengeksplorasi limbah kain, bahkan material “usang” lain, dan mengubahnya menjadi karya seni kontemporer yang layak jual dengan harga premium. Contoh konkret: Desa Padusan Pacet Mojokerto (yang sudah terkenal dengan keramik tradisional) mulai berkolaborasi dengan tim seni dari universitas lokal untuk mengembangkan vas terakota dengan desain kontemporer yang bisa menjadi hiasan gantung di rumah modern atau jadi aksesori display di galeri. Keramik tradisional jadi Produk Gaya Hidup (lifestyle product). Sementara itu, Tana Ampo di Bali juga melakukan eksplorasi terakota dengan iron oksida untuk membuat produk yang tak hanya fungsional, tapi juga estetis.

Seni Rupa Kontemporer dengan Narasi Lokal

Di tingkatan seni rupa fine-art, ada sesuatu yang menarik. Art Jakarta 2025 menampilkan 75 galeri dari 16 negara, tapi yang paling menyita perhatian adalah program “Arus Baru” yang merupakan showcase dari enam seniman muda pilihan kurator Agung Hujatnika. Mereka: Dzikra Afifah, Iwan Yusuf, Mariam Sofrina, Natasha Tontey, Syaiful Garibaldi, dan Uji Hahan Handoko, menjadi representasi nyata bagaimana generasi muda seni rupa Indonesia berkarya. Ciri utamanya? Eksperimental dalam bentuk, tapi berbicara dalam bahasa lokal, melalui simbol tradisi, lanskap urban Indonesia, humor sosial lokal, dan kritik budaya yang khas sini.

Hasilnya? Karya-karya ini bukan sekadar mimik Barat, mereka punya narasi khas yang beresonansi dengan khalayak lokal sekaligus juga turut “bersaing” di panggung global/internasional.

Kecenderungan 2: Konektivitas Seni–Ekonomi–Pendidikan

Salah satu perubahan paling signifikan tahun 2025 adalah semakin tipisnya batasan antara seni, ekonomi, dan pendidikan. Festival dan pameran sekarang ngga cuma memajang karya, mereka juga menjadi laboratorium ekonomi, bisnis dan edukasi.

Festival sebagai Ekosistem Pembelajaran dan Bisnis

RupaReka 2025 di Untar (Juni 2025) adalah contoh sempurna. Festival ini bukan hanya acara pameran karya mahasiswa. Di satu lokasi, ada pameran, workshop kreatif, talkshow inspiratif, Art Market yang jual berbagai produk seni dan desain, plus area makanan. Lebih penting: festival ini sangat sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 (Pendidikan Berkualitas), 8 (Pekerjaan Layak), dan 11 (Kota Berkelanjutan). Apa maksudnya? Ini bukan sekadar tren marketing. Artinya, festival seni sekarang disadari sebagai ruang yang mampu:

  1. Edukasi publik tentang seni dan kreativitas
  2. Mendorong kewirausahaan mahasiswa dan masyarakat
  3. Berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan

Pasar Seni ITB 2025 adalah bukti lain yang lebih dramatis. Setelah vakum selama hampir 11 tahun, event terbesar se-Asia Tenggara ini kembali hadir di Oktober 2025. Konsepnya “Hybrid Realities”, mempertemukan dunia nyata dan dunia maya dalam satu ruang. Event ini direncanakan dengan 200+ stand seni dan desain, menampilkan karya mahasiswa, alumni, komunitas, hingga pelaku industri kreatif. Bukan sekadar pasar kecil, ini infrastruktur serius untuk menghubungkan antara seniman, pembeli, investor, dan institusi pendidikan.

UMKM Kreatif: Dari Industri Rumahan ke Brand Berskala

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 yang diadakan di Sarinah mengumpulkan ratusan UMKM dari seluruh Indonesia. Tema tahun ini: “Kalala Mareda” (kreasi dalam kebersamaan), fokus pada NTT dan daerah lain sebagai subjek utama, bukan sekadar latar eksotis. Event ini bukan sekadar pameran penjualan. Ada business matching digital, literasi keuangan, showcase produk berkelanjutan. UMKM batik, wastra, keramik, dan kriya lain yang terhubung langsung dengan calon pembeli, investor, dan lembaga pembiayaan. Momentum ini penting karena selama ini, UMKM kreatif lokal sering terisolasi di daerah masing-masing. Kini, festival seperti ini menjadi jembatan untuk peningkatan dan pemberdayaan (scale up): dari industri rumahan menjadi usaha dan brand yang dikenal nasional, bahkan internasional.

Kampus sebagai Inkubator Bisnis Kreatif

Berbagai universitas dan fakultas seni juga telah memulai secara perlahan dan konsisten untuk memposisikan diri sebagai inkubator bisnis kreatif. Program seperti Saling Senggol (pra-event Pasar Seni ITB) menjadi prugram dan event yang dirancang spesifik untuk menghubungkan mahasiswa, alumni, dan komunitas dalam kolaborasi kreatif lintas generasi. Talkshow, workshop, bahkan audisi band, semuanya dirancang untuk membuka akses pembelajaran non-formal dan kewirausahaan. Sementara itu di ISI Surakarta, Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 bukan hanya tentang desain motif batik minimalis. Ada juga diversifikasi produk, strategi branding, dan rencana penetrasi pasar untuk UMKM batik lokal. Universitas juga dapat menjadi pendorong dan penunjang bisnis, bukan sekadar tempat belajar teori.

Kecenderungan 3: Digitalisasi dan Keberlanjutan – Teknologi Bertemu Tanggung Jawab

Kecenderungan ketiga yang mengubah wajah industri kreatif di Indonesia di 2025 ini adalah kombinasi antara adopsi teknologi dan kesadaran keberlanjutan.

E-commerce dan Digital Marketing untuk UMKM Kriya

Banyak UMKM batik dan kriya mulai memanfaatkan dan menggunakan e-commerce secara serius. Penelitian di UMKM Batik Cemangklek (Jawa Tengah) menunjukkan implementasi e-commerce dikombinasikan dengan teknik eco-printing mengubah cara mereka beroperasi. Diklat dan pelatihan pemasaran digital, web e-commerce, dan produksi ramah lingkungan bukan lagi sebuah program eksklusif tapi sudah menjadi kebutuhan fundamental untuk peningkatan dan pemberdayaan.

Begitu juga UMKM wastra di Sidoharjo, Lampung. Pengembangan usaha berbasis pemasaran digital, platform e-commerce terintegrasi, dan preservasi budaya lokal jadi satu paket. Berbagai diklat dan pelatihan pemasaran, SEO, social media, dan fotografi produk jadi bagian dari program pemberdayaan UMKM.

Teknologi AI dan machine learning juga mulai dipakai. Contoh: sistem klasifikasi motif batik Indonesia menggunakan CNN (Convolutional Neural Network) yang dikembangkan saat ini sudah bisa secara otomatis, mendeteksi dan mengklasifikasikan berbagai motif. Aplikasi web interaktif untuk desain batik berbasis simetri frieze dan kristalografi memungkinkan seniman mengeksplorasi pola geometris dengan tools digital. Bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, tapi untuk mendemokratisasikan akses ke berbagai tools desain yang dulu mungkin hanya digunakan dan bisa diakses oleh profesional saja.

Fashion Berkelanjutan: Dari Limbah jadi Valuable Product

Salah satu tren terbesar di 2025 adalah fashion berkelanjutan (Sustainable). Generasi muda mulai selektif, memilih kualitas lebih dari sekedar kuantitas, dan memiliki kepedulian lebih terkait dengan dampak lingkungan. Industri, di sisi lain juga meresponnya dengan berbagai dengan inovasi terkait.

Brand seperti Cool.ture (founder: Iman Kahfi Aliza, MBA UGM) mengolah limbah kain batik ekspor (perca, reject karena lubang atau warna tidak merata) jadi pakaian yang stylish dan ramah lingkungan. Kolaborasi dengan ISI Bali dan tricycle.id untuk design pola dan kerjasama vendor yang menjahit. Hasilnya? Produk yang bernilai tinggi, cerita yang menarik (daur ulang + akulturasi budaya), dan positioning yang kuat di pasaran dengan segmen konsumen yang memiliki kesadaran keberlanjutan yang lebih baik.

Tren ini lebih luas dari sekadar brand individual. Ada gerakan seperti eksplorasi limbah kain batik untuk aksesoris eco-fashion, yang mengubah sisa produksi tradisional menjadi produk fashion kontemporer yang bernilai estetis dan ekonomis. Industri rumahan berbasis seni rupa (busana tari, kriya, macramé, batik) yang menerapkan konsep keberlanjutan (sustainability) seperti ini mendapat nilai jual yang lebih tinggi dan loyalitas konsumen yang kuat.

Laporan lengkap tentang fashion berkelanjutan Indonesia 2025 menunjukkan bahwa konsumen dari generasi muda saat ini cenderung mengurangi frekuensi belanja pakaian tapi disisi lain menambah investasi per item. Mereka akan mencari produk yang berkualitas tinggi, tahan lama, dan bisa dikenakan dalam banyak cara. Brand lokal yang memahami hal ini (menggunakan material alami, produksi lokal dalam negeri, edisi terbatas, sistem pre-order) akan jadi pemenang.

Kalau Kamu Kreator, Di Mana Posisi dan Peluangmu?

Nah, sekarang pertanyaan utamanya: apa yang bisa kamu lakukan? Semua jawaban tentunya tergantung dari posisimu dalam ekosistem ini. Berikut beberapa pertimbangan yang bisa menjadi catatan buatmu:

Kalau Kamu Seniman/Ilustrator/Perupa

  • Ikuti berbagai peluang pameran dan festival: Art Jakarta, ARTSUBS, Pasar Seni ITB bukan lagi sekadar pameran, ini akan jadi akses yang bisa menghubungkan kamu ke network seniman, kolektor, brand dan juga investor. Persiapkan proposal dengan narasi yang kuat soal bagaimana karyamu relate dengan konteks lokal Indonesia.
  • Kolaborasi dengan brand dan komunitas: Seniman lokal sekarang memiliki nilai lebih, yang bukan cuma untuk “seni” tapi juga untuk visual storytelling berbasis budaya lokal. Brand fashion, F&B, fintech saat ini sudah banyak yang mulai berkolaborasi dengan seniman.
  • Aksi konkret minggu ini (misalnya): Mulai buat seri karya berbasis motif daerah, lanskap kota, atau cerita lokal. Tampilkan dan tunjukkan progress di portfolio (website + Instagram) dan start bikin buzz di komunitas seni lokal.

Kalau Kamu Perajin/Pelaku UMKM Kriya

  • Upgrade visual dan storytelling brand: Produk kriya bagus, tapi apakah narasi brand jelas? Cerita tentang motif, material, proses produksi, nilai keberlanjutan, ini yang sekarang lebih memiliki nilai bagi konsumen, apalagi di pasar online.
  • Manfaatkan dan gunakan marketplace dan e-commerce: Kehadiranmu atau usaha dan brandmu di Shopee, Tokopedia, Instagram Shop sudah menjadi hal yang esensial saat ini. Tapi jangan berhenti cuma sekedar ada/eksis, lanjut dengan: buat katalog digital yang cakep, video produk, buat konten behind-the-scenes.
  • Ikuti berbagai event seperti KKI, Pasar Kreatif, dan Art Market lokal: Ini bukan sekadar tempat jualan dan nunjukkin karya. Ini juga sebuah peluang untuk networking dengan konsumen dan pembeli skala besar, institusi, media, dan lembaga pembiayaan (investor), dan lainnya.
  • Explorasi dan terapkan kesadaran berkelanjutan dengan material ramah lingkungan: Tren eco-fashion dan sustainability bukan sekedar jargon musiman. Kalau kamu bisa membuat dan memposisikan produk dan karyamu sebagai pilihan yang “sustainable,” yakin deh, market premium untukmu akan dibuka.

Kalau Kamu Desainer, Educator, Content Creator

  • Isi gap edukasi: Ada permintaan dan kebutuhan yang besar (demand) untuk konten-konten edukatif tentang seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Bikin kelas, ebook, video tutorial tentang:
    • Cara gunakan motif lokal dengan etis dan pemahaman yang benar
    • Riset dan pengembangan cerita daerah menjadi narasi visual yang kreatif dan menarik
    • Dasar-dasar usaha/bisnis, branding dan hal terkait
    • Praktik berkelanjutan dalam desain dan seni rupa
  • Berkolaborasi dengan kampus dan komunitas: Festival dan workshop sekarang sering membutuhkan bantuan kurasi, fasilitator dan mentor workshop, dan tentunya kreator konten untuk publikasi, promosi dan pemasaran. Posisikan dirimu sebagai seorang ahli, pakar atau pemimpin yang berwawasan.
  • Audit SEO dan strategi konten: Kalau kamu punya platform (blog, YouTube, podcast, dan lainnya), optimalkan kontenmu dengan berbagai topik terkait seni rupa, kriya, budaya lokal di 2026 kelak. Engagement yang tinggi dan rating audiens akan bisa membuka berbagai kesempatan dan peluang sponsor, kolaborasi, endorsement dan konten berbayar.

Ekosistem Seni dan Budaya yang Terkoneksi

Tahun 2025 ini telah menandai sebuah transformasi atau pergeseran yang cukup signifikan: seni yang sebelumnya seakan terpisah dari berbagai sisi kehidupan sehari-hari, kini semakin melekat di berbagai produk, ruang kota, dan ekonomi serta bisnis. Penguatan basis budaya lokal, konektivitas seni–ekonomi–pendidikan, serta digitalisasi dan keberlanjutan bukan sekadar tren, ini adalah strategi bertahan dan bertumbuh di era global.

Pertanyaan untuk kamu: di mana posisimu di peta baru ini? Sebagai seniman yang bicara dalam bahasa lokal? Perajin yang scale up pakai teknologi? Pengajar yang mendemokratisasikan akses pengetahuan? Atau penghubung yang menjembatani semuanya? Peta baru seni rupa + kriya + budaya lokal Indonesia 2025 terbuka untuk semua. Tinggal gimana kamu navigasinya kelak di 2026. Yuk Semangat! 💪🔥

Sumber & Referensi

  1. BPS: Ekonomi Kreatif Serap Tenaga Kerja 27,4 Juta Tahun 2025 (2025)
    https://www.bps.go.id/id/news/2025/11/17/805/bps, , ekonomi, kreatif, serap, tenaga, kerja, 27, 4, juta, tahun, 2025.html 
  2. Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional,  Media Indonesia (2025)
    https://mediaindonesia.com/ekonomi/843651/ekonomi, kreatif, jadi, mesin, baru, pertumbuhan, ekonomi, nasional 
  3. Estetika Lokal Pohon Pala dalam Inovasi Batik Kontemporer,  Journal ISI (2025)
    https://journal.isi.ac.id/index.php/corak/article/view/13951 
  4. Eksplorasi Nilai Estetika Batik Kontemporer sebagai Identitas Budaya Lokal,  Ilmudata Journal (2025)
    https://journal.ilmudata.co.id/index.php/RIGGS/article/view/3036 
  5. Bunga Edelweiss sebagai Ide Penciptaan Motif Batik Kontemporer (2025)
    https://ejournal.yasin, alsys.org/yasin/article/view/5579 
  6. Branding Batik KhairunQu: Pengembangan Motif Batik Kearifan Lokal Maluku Utara (2025)
    https://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPMK/article/view/5455 
  7. Hak Cipta Kearifan Lokal Indonesia dan Eksploitasi Komersial,  IBLAM Journal (2025)
    https://ejurnal.iblam.ac.id/IRL/index.php/ILR/article/view/646
  8. Implementasi Arsitektur ResNet50 pada Klasifikasi Motif Batik Indonesia (2025)
    https://journal.ppmi.web.id/index.php/jrsit/article/view/2375
  9. Kajian Estetika Motif Batik Joyo Harjo ,  Theodor W. Adorno,  JII Journal (2025)
    https://jii.rivierapublishing.id/index.php/jii/article/view/6989
  10. Batik Blimbing Malang: Akulturasi Budaya Tionghoa, Indonesia (2025)
    https://jurnal.itscience.org/index.php/dst/article/view/7007
  11. Kekongruenan pada Motif Kain Budaya Indonesia,  Journal Banjar Esepacific (2025)
    https://journal.banjaresepacific.com/index.php/jsi/article/view/1343
  12. Aplikasi Web Interaktif Desain Batik Berbasis Simetri Frieze dan Kristalografi (2025)
    https://journal.unirow.ac.id/index.php/mv/article/view/1763
  13. Menilik Arus Baru Generasi Seni Rupa Muda Indonesia di Art Jakarta 2025,  Hypeabis (2025)
    https://hypeabis.id/read/52772/menilik, arus, baru, generasi, seni, rupa, muda, indonesia, di, art, jakarta, 2025
  14. Art Jakarta 2025: Panggung Bergengsi Seni Kontemporer Asia Tenggara,  Space Jakarta (2025)
    https://www.spacejakarta.com/blogs/pameran, event, workshop/art, jakarta, 2025, panggung, bergengsi, seni, kontemporer, asia, tenggara
  15. RupaReka 2025 Hadirkan Semangat Baru Melalui Festival Artnaval,  FSRD Untar (2025)
    https://fsrd.untar.ac.id/2025/06/20/rupareka, 2025, hadirkan, semangat, baru, melalui, festival, artnaval/
  16. Pasar Seni ITB 2025: Saling Senggol Jelang Festival,  ITB (2025)
    https://itb.ac.id/berita/saling, senggol, jelang, pasar, seni, itb, 2025, ruang, kolaborasi, mahasiswa, dan, alumni, fsrd/62729
  17. Karya Kreatif Indonesia 2025: Bank Indonesia Perkuat UMKM,  Media Indonesia (2025)
    https://mediaindonesia.id/karya, kreatif, indonesia, kki, 2025, bank, indonesia, perkuat, umkm, sebagai, motor, penggerak, ekonomi, berkelanjutan
  18. Karya Kreatif Indonesia 2025 Kembali Hadir,  Harper’s Bazaar Indonesia (2025)
    https://harpersbazaar.co.id/articles/read/8/2025/23141/karya, kreatif, indonesia, 2025, kembali, hadir, angkat, umkm
  19. ARTSUBS 2025: Seni Rupa Indonesia dalam Perspektif Baru,  Indonesia Travel (2025)
    https://www.indonesia.travel/gb/en/events/event, detail/artsubs, 2025/
  20. Pemanfaatan E-Commerce pada UMKM Batik Cemangklek,  UNIKOM Journal (2025)
    https://ojs.unikom.ac.id/index.php/petik/article/download/11329/4058
  21. Pengembangan UMKM Berbasis Wastra (Warisan Kain) di Desa Sidoharjo,  JPU Journal
    https://jpu.ubl.ac.id/index.php/jpu/article/download/87/69
  22. Ledakan Tren Fashion Berkelanjutan di Indonesia 2025,  Jakarta Amanah (2025)
    https://jakartaamanah.org/fashion, berkelanjutan, indonesia, 2025/
  23. Cool.ture: Sustainable Fashion Memanfaatkan Limbah Batik,  FEB UGM (2025)
    https://feb.ugm.ac.id/id/berita/4889, kisah, khafi, jalankan, bisnis, sustainable, fashion, dengan, memanfaatkan, limbah, batik
  24. Eksplorasi Limbah Kain Batik untuk Aksesoris Eco-Fashion,  JSK Journal (2021)
    https://jurnal.isi, ska.ac.id/index.php/abdiseni/article/download/3890/3069
  25. Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 ISI Surakarta,  Tempo (2025)
    https://www.tempo.co/gaya, hidup/batik, kontemporer, dari, tangan, perupa, muda, isi, surakarta, 2097473
Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image