Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Menjadi Seorang Seniman, Ulasan Buku “Becoming an Artist” oleh Scott Christian Sava

Barangkali ada beberapa diantara kita yang pernah merasa, saat melihat sebuah karya yang keren, artistik dan bagus, apakah di media sosial seperti Instagram ataupun secara offline saat mengunjungi sebuah pameran lukisan di galeri, bahwasanya dunia seni itu seolah seperti sebuah benteng yang dijaga ketat dengan tembok besar yang begitu tinggi? Dan seakan kita harus punya “izin” khusus, entah itu bakat bawaan ataupun gelar mahal dari sekolah seni terkemuka, baru kita bisa ikut menyebut diri kita seniman?

Kalau kamu cepet lelah dan bosen membaca tulisan yang panjang, kamu bisa santai dengerin ringkasan berupa podcast ini.

Kalaulah iya, saatnya kamu punya “izin” tersebut. Di tengah hiruk-pikuk tuntutan perfeksionisme digital seperti inilah sebuah buku unik dari Scott Christian Sava hadir, di buku ini Sava tidak memposisikan dirinya sebagai kritikus seni yang dingin, melainkan sebagai sosok Art Dad yang hangat dan suportif. Buku yang berjudul “Becoming an Artist: How to Make Art Like a Human by Embracing Failure, Discovering Your Creative Voice & Finding Joy in the Process” seolah menawarkan kita sebuah permission slip (surat izin) untuk kembali menjadi seniman yang juga seorang manusia saat membuat dan berproses dengan karya seninya.

Scott Christian Sava adalah seorang veteran industri yang sangat kredibel dan profesional, ia adalah seorang animator, ilustrator, sutradara, penulis, dan produser, yang pernah bekerja untuk berbagai perusahaan besar seperti Disney, Universal, Nickelodeon, dan Marvel (termasuk di sinema Spider-Man dan Star Trek) selama lebih dari tiga dekade. Jadi, ketika ia berbicara tentang kegagalan dan keraguan diri, tentunya ia berbicara dari posisi seseorang yang telah menaklukkan tuntutan industri komersial yang menuntut kualitas tinggi dan tenggat waktu yang ketat.

Buku karyanya ini, yang lahir sebagian besar dari kebangkitan karir Sava di platform digital selama pandemi, tempat ia kini menjadi “Art Dad” bagi lebih dari empat juta pengikut (Youtube dan TikTok) adalah sebuah refleksi mendalam mengenai berbagai hal-hal mendasar dan filosofis, bukan teknik. Ini adalah laksana sebuah buku panduan tentang bagaimana kita bisa menikmati proses menciptakan, melepaskan rasa takut akan kegagalan, dan menemukan kegembiraan di setiap aktivitas berkarya yang kita lakukan.

Merangkul Ketidaksempurnaan

Filosofi Sava dimulai dengan membangun fondasi psikologis yang kuat. Ia tahu bahwa penghalang terbesar bagi seorang seniman bukanlah kurangnya bakat, melainkan rasa takut dan khawatir, rasa tidak percaya diri yang membelenggu.

1. Siapa yang Berhak Menjadi Seniman?

Sava memulai dengan pertanyaan paling mendasar: Siapa yang paling berhak memutuskan dan membuat pernyataan seseorang itu seniman, dan apa itu “seni”? Jawaban Sava sangat radikal dan membebaskan: Kamu sendirilah yang memutuskan. Kamu ngga perlu bakat khusus, gelar seni, atau bahkan membuktikannya dengan telah menjual salah satu karyamu. Kamu hanya perlu mengucapkan kata-kata ini: “Saya adalah seorang seniman!” Dan, boom! Kamu adalah seorang seniman. Sava mengingatkan dengan sedikit humor bahwa cara ini hanya berlaku untuk seniman; mencoba mengklaim diri sebagai dokter atau pengacara tanpa kualifikasi akan berujung pada tuduhan “penipuan”😅. Intinya, kamulah yang mengontrol identitasmu, dan tidak ada satu pun orang, baik online atau offline yang bisa dan berhak menyangkal bahwa kamu bukan seniman.

Lalu, apa itu seni? Sava berargumen bahwa seni adalah seni karena sang seniman membuat karyanya dengan niat (intention) agar itu menjadi seni. Seni bukanlah kecelakaan, itu adalah kerja keras, latihan, dan niat untuk menciptakan suatu karya. Karya itu mungkin tidak cukup “bagus” bagimu, bagi orang lain, atau bahkan bagi siapa pun, tetapi jika seseorang berusaha menciptakannya dan menyebutnya karya seni, maka itu adalah seni.

2. Hasrat Lebih dari sekedar Bakat dan Pendidikan

Dalam bukunya, Sava mengakui bahwa ia terlahir dengan bakat alami untuk seni (ia mulai meniru komik Spider-Man saat berusia enam tahun dan itu terasa natural). Ia juga beruntung dapat mengikuti pendidikan di sekolah seni yang bagus. Namun, ia menegaskan bahwa itu bukanlah alasan utama ia bisa berkarir selama 30 tahun, Hasrat dan kemauannya jauh lebih penting daripada bakat atau pelatihan.

Sava menceritakan bagaimana ia pernah kehilangan hasrat untuk seni tradisional selama 10 tahun di usia 30-an. Saat itu, ia masih memiliki bakat dan pelatihan yang sama, tetapi tanpa gairah, tidak ada seni yang dihasilkan, tidak ada kegembiraan, dan tidak ada keinginan untuk bereksperimen, hanya satu dekade yang terbuang dan berlalu begitu saja. Menurutnya:

  • Bakat adalah awal yang baik
  • Pelatihan dan Pendidikan adalah fondasi, namun
  • Hasrat dan Kemauan adalah yang membuat kita menjadi seniman, ini yang mendorong kita melewati kegagalan dan mendesak kita untuk “membuat sesuatu” setiap hari. Gairah itu gratis dan melimpah, tidak eksklusif bagi mereka yang mampu membeli pendidikan. Seseorang tanpa bakat dan tanpa pelatihan tetapi memiliki gairah, tidak memiliki batas untuk apa yang dapat ia capai.

3. Mitos Mahakarya dan Filosofi “100 Gambar Buruk”

Setiap seniman tentunya merasa ingin membuat mahakarya begitu mereka menyentuh pensil atau kuas. Namun, Sava mengingatkan kita bahwa kita tidak selalu bisa mengontrol apa yang akan menjadi mahakarya, dan seringkali inspirasi datang secara acak dan tak terduga. Lantas, apa yang harus kita lakukan di sela-sela menunggu inspirasi mahakarya itu datang? Jawabannya: “Kadang Kamu harus membuat 100 Gambar BURUK untuk mendapatkan 1 yang BAIK”. Sava menggunakan analogi yang kasual seperti itu, namun sudah cukup kuat, kita memang harus “mengeluarkan” (Seakan buang air dan mengeluarkan kotoran) semua karya buruk kita terlebih dahulu. Karya buruk ini menghalangi jalan menuju karya yang bagus. Jadi, kita harus membuka buku sketsa, mencoret-coret dan mengeluarkan karya-karya “sampah” itu dan tidak perlu khawatir apapun, baik atau buruk hasilnya.

99% dari karya yang kamu buat akan menjadi latihanmu. Di dalam 99% inilah kamu mengasah keterampilan, bereksperimen dengan ide, teknik, dan media baru, dan bertumbuh menjadi seorang seniman seperti yang kamu inginkan. Ini adalah seperti pesan pembebasan yang bertujuan menghilangkan beban ekspektasi/harapan yang terlalu muluk. Kegagalan bukanlah sebuah vonis mati, melainkan sekadar data yang harus diproses dan dilalui.

4. Mengatasi Artist’s Block: Kamu Hanya Merasa Bosan

Scott Sava mendefinisikan artist’s block (kebuntuan kreatif) dengan cara yang sangat praktis: Kamu bosan. Kebuntuan kreatif seperti ini terkadang muncul karena kamu telah melampaui gaya, teknik, atau subjek yang kamu kerjakan saat ini. Itu berarti kamu telah cukup bertumbuh sebagai seniman, dan otakmu mengatakan, “Aku sudah cukup melakukan ini. Aku ngga merasa tertantang lagi. Sebaiknya kita mencoba sesuatu yang baru selanjutnya”. Solusinya, menurut Sava, bukanlah duduk dan menunggu saat inspirasi datang kembali. Solusinya adalah:

  • Cari Asupan Kreatif dan Artistik: Kunjungi museum, galeri, atau cari dan temukan inspirasi dari berbagai seniman baru yang belum pernah kamu dengar. Salin karya mereka, serap kejeniusan mereka.
  • Ubah Gaya: Jika gaya komikmu sudah membosankan, coba impresionisme, art nouveau, pop art, atau chibi. Gabungkan elemen-elemen baru ini dengan gaya lamamu, dan Boom! Kamu punya gaya baru yang lebih segar dan berbeda dari sebelumnya.
  • Coba Medium Baru: Pindah dari pensil warna ke cat air, atau dari digital ke tanah liat. Mengubah hal-hal ini membuat proses yang kamu lewati menjadi lebih menantang dan menarik lagi, meskipun mungkin kamu harus menerima bahwa kamu akan “payah” dan mengalami kesulitan pada awalnya.

Eksplorasi, Proses, dan Gaya

Sava tidak mengabaikan aspek praktis dalam berkreasi dan pembuatan karya seni, tetapi ia membingkai semua teknik dalam konteks kebebasan, bukan aturan.

5. Menggambar Segalanya Setiap Hari

Jika ada satu tips paling universal yang Sava dapat berikan, itu adalah: Gambar Segalanya. Setiap. Hari. (Draw Everything Every Day).

Ketika kita masih muda, umumnya kita cenderung menggambar dari imajinasi (karakter asli atau sesuatu yang menarik atensi kita). Tetapi seiring waktu, imajinasi itu bisa habis. Kebuntuan datang ketika otakmu siap untuk naik ke level berikutnya, yaitu mulai menggambar dunia di sekitarmu. Ini berarti mengambil waktu setidaknya satu jam setiap hari untuk menggambar apa pun yang ada di depan mata dan keseharianmu, misalnya orang-orang dengan berbagai bentuk tubuh, membuat kopi (barista), mobil, bangunan, atau makanan yang kamu makan. Menggambar segala sesuatu mengajarkanmu cara memecah objek menjadi bentuk dasar, perspektif, dan warna baru. Sava menyarankan, andaikan ia memahami hal ini saat berusia 18 atau 19 tahun, ia pasti sudah jauh lebih maju saat ini sebagai seorang seniman.

6. Tidak Ada yang Namanya Curang dalam Seni

Ini mungkin topik yang paling membebaskan. Sava menegaskan, “Tidak ada yang namanya curang dalam seni”. Agar ada kecurangan, harus ada aturan. Tetapi tidak ada dewan tinggi seperti dewa-dewa dan dewi seni yang menetapkan hukum supernatural tentang cara menggambar atau warna apa saja yang dilarang. Sava memberi kita “izin” untuk menggunakan alat apa pun yang menurutmu bisa membantumu menyelesaikan pekerjaan dalam proses membuat sebuah karya. Ini termasuk menggunakan alat tracing, referensi foto, atau mencampur berbagai medium (pensil, cat, digital), bebaskan diri dan pilih apa yang kamu suka. Bahkan Paman Sava, seorang ilustrator ternama, membuktikan bahwa mencampur medium bukanlah “kecurangan”. Kebebasan ini mungkin kontras dengan pandangan beberapa profesional yang menekankan metode pelatihan ketat, tetapi Sava berpendapat bahwa yang penting adalah prosesnya, kamu bebas membuat seni sesuai keinginanmu dan mendorong orang lain melakukan hal yang sama.

7. Mencuri Seperti Seniman untuk Menemukan Gaya

Sava secara terbuka membahas pepatah terkenal Pablo Picasso: “Seniman yang baik meminjam, seniman yang hebat mencuri”. “Mencuri seperti seniman” berarti kamu mengumpulkan informasi, menyalin, dan mempelajari teknik idolamu selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Kamu tidak menyalin untuk mengklaimnya sebagai milikmu, melainkan untuk menyerap kejeniusan mereka ke dalam memori ototmu.

Sava mengakui bahwa gayanya sendiri adalah mozaik dari seniman yang ia idolakan dan tiru saat tumbuh dewasa, termasuk Drew Struzan (poster film), J. C. Leyendecker (iklan), John Buscema (komik Marvel), dan Bill Sienkiewicz. Jika kamu suka cara seseorang menggambar hidung atau menggunakan warna, tirulah dan lakukan saja seperti itu. Dengan menyalin, kamu akan mulai memahami mengapa sebuah karya itu berhasil, dan kemudian kamu akan menggabungkan bagian-bagian yang kamu curi itu untuk menciptakan karya yang secara unik adalah milikmu.

8. Pentingnya Penceritaan Jauh di Atas Teknik

Bagi Sava, mahir dalam teknik itu hebat, dan memiliki gaya yang unik itu berkesan, tetapi penceritaan (storytelling) adalah elemen yang utama dan terpenting. Banyak seniman yang secara teknis sempurna, tetapi jika karya mereka tidak menceritakan atau menyampaikan sesuatu dengan baik dan menarik, maka mereka tetap seorang amatir/medioker. Karya seni dalam segala bentuknya, apakah itu musik, puisi, tari, dan lainnya adalah sebuah penceritaan, sebuah cara menyampaikan pesan dan cerita. Menurutnya ada tiga cara seorang seniman dapat menyampaikan ceritanya:

  • Melalui karakter, simbolisme, latar belakang lokasi, atau makna budaya.
  • Dengan membagikan proses pembuatannya, menunjukkan kerentanan, ketakutan, dan kesalahan yang di alami, yang membuat khalayak terhubung secara emosional.
  • Identitasmu, gender, warna kulit dan kebiasaan-kebiasaan tertentu juga dapat menjadi panggung utama seni, baik sebagai senjata untuk mendobrak batasan atau sebagai perisai untuk melindungi dari politisasi.

Sava mengingatkan, kita tidak perlu mencari makna mendalam di setiap karya yang kita buat (kadang kita hanya ingin menggambar karena itu menyenangkan). Namun, ketika kita memiliki sesuatu yang ingin kita katakan, kita perlu melakukan riset, membuat rencana, dan membangun kisah latar (backstory) yang mendalam. Dan ini kelak yang akan membuat sebuah karya seni memiliki nilai tambah.

9. Thumbnails dan Sudut Pandang yang Segar

Dalam hal efisiensi teknis, Sava menyarankan penggunaan thumbnails, yaitu sketsa-sketsa mini super cepat, seperti coretan storyboard yang dapat digunakan untuk memvisualisasikan komposisi, proporsi, dan penceritaan sebelum memulai karya utama. Thumbnails memungkinkan kita gagal dengan cepat dan mudah di awal proses. Selain itu, ia membahas kebiasaan buruk yang sering dilakukan seniman: noodling, yaitu terlalu fokus pada detail dan hal-hal kecil yang menyita waktu hingga kehilangan gambaran besar yang utama. Solusinya: Mundurlah dari karyamu, berhenti sejenak atau tinggalkan.

Jika kamu bekerja terlalu intens, tenggelam dalam ilusi karya yang kamu proses, seringkali kamu kehilangan perspektif total dan fokus pada hasrat yang ingin kamu sampaikan. Mundur lima langkah dan coba lihat karyamu di cermin atau mengambil beberapa foto dari sudut pandang berbeda akan dapat memberikan persepsi dan penglihatan yang lebih baik dan segar (fresh eyes). Ini membantu kamu melihat karya tersebut sebagaimana khalayak akan melihatnya, sebagai sebuah keseluruhan, bukan hanya detail. Dan yang terpenting: Belajarlah untuk mengucapkan, “Sudah mati, Jim” (It’s dead, Jim—merujuk ke Star Trek) pada karya yang tidak bisa diselamatkan 😉.

Realitas dan Kerentanan: Karir, Kesehatan, dan Komunitas

Buku Sava tidak hanya tentang membuat karya seni, tetapi juga tentang menjalani hidup sebagai seniman, lengkap dengan rasa tidak aman dan tuntutan pasar.

10. Mengelola Rasa Tidak Aman dan Sindrom Imposter

Rasa tidak aman, takut gagal dan khawatir adalah bagian dari kodrat manusia. Sava sendiri, di usianya yang 55 tahun dengan karir yang sukses dan jutaan pengikut, mengaku masih merasa tidak aman dan tidak layak jika membandingkan karyanya dengan idola seperti Buscema atau Leyendecker. Sebaliknya, ia meminta kita untuk selalu berkaca pada idola, karena tindakan meniru dan mencontoh kehebatan mereka akan mengangkat karya kita sendiri. Seni adalah perjalanan seumur hidup. Untuk mengatasi rasa tidak aman, Sava memberikan tips reflektif yang personal:

  • Lihatlah ke Belakang: Bandingkan karyamu sekarang dengan karyamu satu atau dua tahun lalu untuk melihat pertumbuhanmu beserta proses yang sudah kamu lalui.
  • Jadilah Idola untuk Dirimu Sendiri: Bayangkan kamu menunjukkan karyamu saat ini kepada dirimu yang lebih muda (di sekolah menengah atau SD). Ia pasti akan menganggapmu rock star dan idolanya sendiri. Seni adalah cerminan dari dirimu pada saat ini. Saat kamu berevolusi sebagai seorang seniman, karya senimu akan menjadi lebih kompleks, beragam, dan kreatif.

11. Bekas Luka Seni (The Scars of Art)

Mengapa seniman kesulitan menerima pujian? Karena umumnya kita selalu mengingat betul setiap kesalahan yang pernah kita lakukan, dari setiap tetesan tinta yang ditutupi, setiap hidung yang digambar ulang, setiap warna latar belakang yang salah, menjadi bekas luka pada karya tersebut. Sava menggambarkan bagaimana ia masih melihat kekurangan keterampilannya (seperti kesulitan menggambar sisik ular) di balik lukisan Medusa yang sebenarnya sudah selesai dengan baik. Namun, bekas luka ini bukanlah hal yang buruk. Mereka adalah bukti bahwa kita berhasil melewati bagian yang sulit. Mereka adalah piala yang membuktikan bahwa kita bertahan (persevered), kita lebih kuat, dan lebih berani dari sebelumnya.

12. Karier dan Stabilitas: Jangan Takut Pekerjaan “Nyata”

Pertanyaan: Haruskah saya mengejar karir di bidang seni? Sava membalas dengan pertanyaan: Apakah kamu SANGAT MENCINTAI seni, bahkan jika kamu tidak pernah melakukannya hingga ke tahap pameran di galeri atau membuat ilustrasi buku? Ia cukup realistis tentang pilihan karir seni: penuh penolakan disana-sini, keraguan diri, ketidakamanan finansial, dan imposter syndrome. Sava sendiri, yang gagal dalam subjek lain di sekolah menengah selain seni, merasa tidak punya pilihan lain.

Namun, nasihatnya untuk generasi baru sangatlah pragmatis: Kalau kamu memiliki keterampilan yang bisa memberimu stabilitas (seperti akuntansi atau teknik), kejar itu 100%. Mengapa? Karena memiliki pekerjaan penuh waktu dan gaji tetap adalah sebuah kemewahan yang memungkinkan kamu membuat seni untuk bersenang-senang, tanpa tekanan finansial yang konyol (seperti, “Ya Tuhan, semoga karya ini tidak jelek, karena aku harus membayar sewa bulan ini!”).

Pesan terpenting Sava adalah: MEMILIKI PEKERJAAN LAIN TIDAK MEMBUATMU KURANG LAYAK SEBAGAI SENIMAN. Kamu tetaplah seorang seniman selama kamu membuat karya seni dan terus memiliki gairah untuk berkreasi. Seniman yang makan ramen di gudang bersama seniman akuntan yang melukis di akhir pekan adalah sama-sama seniman.

13. Autisme, Overstimulasi, dan Seni sebagai Ruang yang Aman

Buku ini dibingkai oleh narasi personal Sava tentang perjalanannya ke kota besar New York untuk menulis buku ini. Awalnya direncanakan menetap untuk tiga minggu, namun ia hanya mampu bertahan tujuh hari. Sava, yang saat itu didiagnosis autis, merasa New York yang ramai dan bising adalah tempat yang sangat tidak nyaman (overstimulated). Bagi Sava, seni menggambar dan melukis, adalah ruang yang aman (safe space) dan merupakan salah satu caranya mengatasi overstimulation. Ia selalu membawa tas obat-obatannya, headphone peredam bising, dan buku sketsa ke mana-mana, mencatat setiap momen dalam coretan sketsa atau lukisan cat air hitam-putih. Istrinya, Donna, adalah pahlawan yang selalu memegang tangannya, membawakan kanvas dan kertas sketsanya, dan juga selalu memastikan ia baik-baik saja.

Perjalanan ini mengajarkan Sava bahwa seni tidak hanya tentang mahakarya; seni adalah representasi fisik dari ingatan dan pengalaman. Sava menunjukkan bahwa menjadi seorang seniman yang juga manusia berarti mengakui keterbatasan fisik dan mental, dan menggunakan seni sebagai jangkar kestabilan.

14. Etika Manusia: Jadilah Seperti Dua Rogers

Sava menekankan bahwa menjadi seorang seniman yang hebat tidak ada artinya jika kita tidak bisa menjadi manusia yang baik. Ia mengajukan sebuah contoh kompas moral yang dimilikinya: Jadilah baik, seperti Dua Rogers. Dua Rogers tersebut adalah Fred Rogers (Mister Rogers’ Neighborhood) yang melambangkan kebaikan, empati, dan kelembutan, serta Steve Rogers (Captain America) yang melambangkan integritas dan keberanian untuk melindungi. Sava mendorong seniman untuk menggunakan seni mereka, yang memiliki kekuatan besar untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, lebih ramah, dan lebih bersahabat.

15. Seni, Aktivisme, dan Visibilitas

Seni memiliki kekuatan untuk mengubah hati dan pikiran. Mengutip “kekuatan besar membawa tanggung jawab besar” dari Paman Ben (Spider-Man), Sava menyarankan seniman untuk menggunakan seni sebagai aktivisme: untuk memberi harapan, melawan penindasan, ataupun membawa kegembiraan. Namun, Sava juga berpendapat bahwa kita tidak boleh membiarkan siapa pun membuat kita merasa tidak terlihat (invisible). Banyak seniman merasa karya mereka tidak memiliki nilai karena mereka tidak memiliki bakat, modal dan penampilan yang wah (faktor X) atau tidak dikenal media. Sava meyakinkan bahwa setiap seniman memiliki perspektif unik dan pengalaman hidup mereka yang bernilai. Suara, cerita, dan seni kita adalah yang penting.

Analisis Kritis dan Koneksi dengan Realitas Kreatif Kontemporer

Meskipun buku Sava laksana sebuah “pelukan hangat” yang luar biasa bagi banyak orang secara umum, penting untuk meninjau filosofinya dalam konteks ekonomi kreatif yang lebih keras, yang disorot oleh sumber-sumber lainnya.

A. Kontras Filosofis: Sava vs. Disiplin Militer (Pressfield)

Scott Christian Sava (Art Dad) dalam buku ini berfokus pada kenikmatan dalam berproses dan bertumbuh (Joy in the Process) dan memberikan izin (Permission) untuk kegagalan. Filosofi ini sangat kontras dengan panduan kreativitas lain, seperti The War of Art karya Steven Pressfield. Pressfield memandang keraguan diri, penundaan, dan rasa takut sebagai “Resistance” yang harus dihancurkan dengan disiplin militer yang keras dan etos kerja profesional (“Show up every day” / “Just Do It!”).

  • Sava: Memberikan izin emosional untuk memulai, bahkan ketika kamu menghasilkan sesuatu yang buruk. Ia bersifat afektif.
  • Pressfield: Menuntut disiplin keras dan profesionalisme untuk melawan musuh di dalam diri. Ia bersifat struktural.

Kekuatan Sava adalah dalam mengatasi penghalang emosional. Ia menyiapkan landasan mental yang tenang dan suportif, yang sangat penting untuk seorang seniman yang mengalami kelelahan mental dan fisik atau kerentanan psikologis tertentu.

B. Praktik: Volume vs. Struktur (Deliberate Practice)

Sava sangat menekankan praktik dengan intensitas tinggi (“100 gambar buruk”) dan konsistensi (“Draw Everything Every Day”). Namun, para ahli profesional dalam pengembangan keterampilan, banyak yang menekankan bahwa hanya praktik saja tidak cukup. Praktik harus terstruktur (deliberate practice) dan juga melibatkan tiga faktor kunci: waktu yang dihabiskan untuk berlatih, sistem progresif yang dirancang dengan baik (dari sederhana ke kompleks), dan yang terpenting, diawasi serta dikritik oleh seseorang yang telah menguasai bidang tersebut. Tanpa pendekatan yang terorganisir, ada risiko bahwa seorang seniman hanya menjadi efisien dalam menghasilkan karya yang biasa-biasa saja (mediocre) dan mudah menemui kebuntuan. Dengan kata lain, gairah Sava harus dipadukan dengan kemauan untuk mencari kritik dan bimbingan yang lebih terstruktur.

C. Realitas Ekonomi Digital dan Ketidakpastian

Sava sering bersikap santai tentang kesuksesan digital, bahkan melabeli algoritma yang menentukan siapa yang mendapatkan views sebagai “Keberuntungan” murni. Tujuannya adalah mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan banyak calon seniman di media sosial.

Kenyataannya, realitas gig economy digital menunjukkan bahwa seniman menghadapi situasi dan kondisi ketidakpastian yang tinggi dan berada di bawah kendali algorithmic normativity. Dalam hal ini, agar berhasil, seorang seniman harus melakukan “relational work”, yaitu upaya-upaya emosional yang signifikan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang bermakna dengan klien dan khalayak (misalnya, berjejaring, bersikap ramah, mengelola reputasi, dan lainnya). Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa seniman-seniman di berbagai forum, kesuksesan sering datang dari jaringan dan kepribadian (“50% personality tbh”), kerja keras yang sangat panjang (hingga 90+ jam seminggu), atau memiliki jaring pengaman finansial (orang tua atau pasangan tajir). Oleh karena itu, meskipun Sava menawarkan bahan bakar mental yang vital (hasrat dan kemauan), seorang seniman modern harus mengakui bahwa mereka juga perlu menguasai sisi bisnis dari seni, termasuk didalamnya mengenai penetapan harga, portofolio yang terorganisir, dan relational work yang melelahkan sebagai bagian dari profesionalisme.

D. Resiliensi di Era AI dan Perubahan

Sava menulis tentang tantangan teknologi di eranya, termasuk penggunaan alat-alat berteknologi digital. Namun, kemunculan kecerdasan buatan (AI) generatif saat ini secara fundamental telah mengubah situasi dan kondisi kerja. Dalam pasar yang kebanjiran konten yang dihasilkan AI, fokus Sava pada suara kreatif manusia yang otentik dan tidak sempurna menjadi aset ekonomi yang paling berharga. Kemampuan untuk membuat seni yang membangkitkan kegembiraan pribadi (make art that makes you happy) dan menampilkan kerentanan adalah hal yang tidak dapat ditiru oleh mesin. Oleh karena itu, pesan Sava untuk menjadi aneh (weird), tidak sempurna, dan manusiawi, adalah strategi terbaik untuk mempertahankan nilai unik seorang seniman di masa depan.

Panggilan untuk Berkarya, Bukan Hanya Meniru

“Becoming an Artist” bukanlah buku yang akan membuatmu kaya atau mengajarkanmu teknik cara melukis figur sebanding dengan John Buscema. Sava secara eksplisit menolak janji-janji klise tersebut. Sebaliknya, buku ini adalah sebuah manual tentang kesehatan mental dan keberanian di dunia kreatif. Ini adalah suara yang memotivasi dengan hangat dan bersahabat, seperti Bob Ross dan Mister Rogers, yang mengatakan: Tidak apa-apa untuk menjadi buruk, kekurangan dan sesekali gagal. Tidak apa-apa untuk merangkul ketakutanmu. Tidak apa-apa untuk mencuri ide dari idolamu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang unik milikmu. Penting untuk diingat bahwa seni, sebagaimana didefinisikan Sava, adalah sebuah proses berkreasi dan penciptaan. Kita mengambil sesuatu dari kosong, kehampaan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik dan bermakna. Dunia membutuhkan semua bentuk seni: seni yang berantakan, seni pemula, seni yang belum selesai, dan seni yang berkata, “Saya tidak tahu apa yang saya lakukan”.

Buku ini paling bermanfaat bagi mereka yang merasa terhalang oleh kesempurnaan (perfeksionisme), yang mengalami burnout, atau yang semangatnya pernah digugurkan oleh guru seni yang buruk dimasa lalu. Ini adalah sebuah undangan untuk kembali ke inti mengapa kita menciptakan: Karena kita HARUS. Karena itu adalah cara kita memahami dunia dan mencari kenyamanan di dalamnya.

Pada akhirnya, Scott Christian Sava telah memberikan kita izin untuk menjadi seniman yang kita inginkan, terlepas dari ada atau tiadanya sertifikat, akun bank, atau opini orang lain. Kamu hanya perlu memulai. Dan jika kamu merasa buntu, khawatir atau takut, ingat saja: Langkah selanjutnya adalah membuat dan menghasilkan karya buruk pertamamu hari ini.

Tulisan ini disusun berdasarkan tinjauan dan ulasan mendalam terhadap buku “Becoming an Artist” oleh Scott Christian Sava dan juga berbagai referensi yang diberikan oleh sumber-sumber terkait.

Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image