Musashi adalah novel karangan Eiji Yoshikawa, penulis berkebangsaan Jepang. Di Jepang, kisah ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk serial dalam surat kabar Jepang, Asahi Shimbun pada tahun 1935-1939 dan dibukukan pada 1980-an.
Di Indonesia, kisah ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Kompas pada tahun 1983-1984, dilanjutkan dengan bentuk tujuh jilid buku saku pada sekitar tahun 1990-an. Terjemahannya bukan berasal dari kisah asli Bahasa Jepang (sekitar dua puluh enam ribu halaman) melainkan dari terjemahan Bahasa Inggris yang lebih ringkas.
Pada tahun 2002, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan kembali buku ini dalam bentuk satu buku lengkap setebal 1.247 halaman. Novel Musashi memiliki jumlah halaman yang lumayan banyak. Jika ditanya apa yang membuat saya ingin terus membacanya, salah satu jawabannya adalah bahasanya yang mudah dimengerti. Disajikan dengan bahasa yang dapat memberikan gambaran dengan jelas, terlebih lagi saat Musashi bertarung, Eiji Yoshiwaka, melakukannya dengan sangat baik. Ayunan pedang, setiap tindakan yang dilakukan, intuisi serta setiap refleks gerakan tokoh, ditulis dengan detil yang sangat halus, yang membuat imajinasi kita serasa sedang menonton film.
Musashi juga dikenal sebagai tokoh yang sangat kuat. Saat pertama kali ia mengembara, seorang biksu dari kuil Ozoin sudah memperingatkannya untuk mengontrol kekuatannya, mengingat kemampuan tidak biasa yang ia miliki. Musashi juga digambarkan sebagai orang yang mencintai seni. Dalam cerita, kerap kali Musashi dikisahkan sedang membuat lukisan dan patung Kanon (sosok dewi dalam kepercayaan agama Buddha). Tidak hanya itu, saat-saat persiapan sebelum ia akan memulai duel hidup dan matinya, Musashi diceritakan akan mencari dan menikmati suasana tenang.
Saya sangat terinspirasi dengan sikap Musashi yang sangat tabah, pekerja keras, dan bijaksana. Meskipun ia sering difitnah tetapi ia tidak pernah memedulikan ucapan-ucapan orang banyak yang menyebarkan rumor buruk tentangnya. Musashi juga merupakan orang yang sangat rendah hati. Meski memiliki kekuatan ia tidak pernah menyombongkan diri dan tidak pernah merendahkan lawannya.
Dalam buku ini, kita dapat melihat seberapa besar harga diri seorang Samurai dan arti pedang bagi mereka; Musashi bahkan tertidur dalam keadaan memeluk pedangnya. Ketika ada seseorang yang mencoba menyentuh pedang tersebut maka nasib orang itu sudah pasti akan berada di ujung tanduk. Hal ini memperlihatkan bahwa pedang sudah menjadi bagian dari tubuh seorang samurai.
Pengalaman mengasyikkan lainnya dari menikmati novel ini adalah ketika membaca beberapa puisi-puisi kuno China maupun Jepang, serta seni perang Sun Tzu. Rasanya seperti sedang membaca pepatah dan petuah walau terkadang sedikit membingungkan.
Hanya saja, saya sedikit menyayangkan pengembangan tokoh sampingannya yang terlalu banyak dan panjang sehingga pada beberapa bab kisah hanya difokuskan pada karakter pendukung tersebut; kisah Musashi tidak ditampilkan sama sekali. Jika ingin mengetahui seluruh situasi yang sedang berlangsung dan kondisi Musashi, maka pembaca harus menelusuri seluruh bab hingga selesai. Meskipun demikian, kisah tokoh sampingan juga cukup seru untuk dibaca.
Saya merekomendasikan novel ini karena sangat bagus untuk dibaca di kala memiliki waktu luang. Dan menurut saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang menyukai buku-buku bergenre perang dan pertarungan berlatar Jepang kuno.
Novel ini membuat kita mengenal cara hidup seorang Samurai. Selain Musashi, saya menyarankan beberapa karya lain yang juga ditulis oleh Eiji Yoshikawa, yaitu Taiko. Novel ini mengisahkan tentang tiga tokoh besar pada zaman feodal Jepang, yaitu Oda Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, serta Toyotomi Hideyoshi. 😉👍