Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Musik AI di Platform Streaming: Ada Perubahan Apa?

Beberapa waktu belakangan ini, sering banget aku lihat dan nyimak beberapa komentar, pendapat atau opini orang-orang (mungkin masih bisa dibilang isu/rumor yah šŸ˜…) di beberapa media sosial bahwa musik yang dibuat pakai AI—kayak dari Suno, Udio, Soundful, atau Rifussion—bakalan dihapus total dari berbagai platform streaming musik seperti Spotify, Apple Music, Deezer, Joox, SoundCloud dan lain-lainnya. Nah, pertanyaan besarnya: apakah info/isu itu bener?

Spoiler alert: jawabannya ternyata ngga sesimpel bener atau salah. Saking penasaran, akhirnya aku mencoba riset dan nyari berbagai referensi artikel, berita dan tulisan-tulisan terkait. Yuk kita bedah satu per satu berdasarkan perkembangan terbaru sampai awal bulan hujan di November 2025 ini.

Kabar Sebenarnya: Musik AI Tidak Sepenuhnya Dilarang

Pertama-tama, perlu kita lurusin dulu nih. Platform streaming musik mayoritas ngga sepenuhnya melarang musik yang dihasilkan dan yang dibuat baik sebagian ataupun keseluruhan menggunakan AI. Yang terjadi justru lebih kompleks dari sekadar larangan total. Platform-platform Streaming besar global seperti Spotify, Deezer, Apple Music, dan SoundCloud sedang menghadapi hujan deras musik AI yang membanjiri sistem mereka 🌧, dan mereka meresponnya dengan berbagai aturan dan kebijakan baru yang lebih ketat dan transparan.

Spotify, misalnya, pada September 2025 mengumumkan kebijakan baru yang ngga melarang musik AI secara total, tapi justru fokus ke transparansi dan perlindungan artis. Mereka bahkan sudah menghapus sekitar 75 juta lagu-lagu “spammy” dalam setahun terakhir—tapi bukan karena semua lagu itu bikinan AI, melainkan karena melanggar aturan anti-fraud dan spam.

Deezer lebih agresif dalam mendeteksi musik AI. Platform asal Prancis ini punya sistem deteksi AI yang canggih dan melaporkan bahwa per September 2025, 28% dari semua musik yang diupload setiap hari—sekitar 30.000 track—adalah musik yang sepenuhnya dibuat AI 😱. Tapi sekali lagi, Deezer ngga langsung menghapus semua musik AI tersebut. Mereka cuma mengeluarkan musik AI dari algoritma rekomendasi dan playlist editorial, plus menandai (memberikan label) musik yang dibuat AI supaya pendengar tahu bahwa itu bukan hasil karya seniman/manusia seutuhnya.

Apple Music dan SoundCloud juga punya pendekatan masing-masing. Apple Music lebih ketat soal verifikasi kepemilikan hak cipta dan ngga sembarangan ngasih akses upload. Sementara SoundCloud disisi lain melarang monetisasi untuk lagu yang dibuat sepenuhnya dengan AI, tapi tetap membolehkan upload dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Kebijakan Terbaru Platform Streaming

Spotify: Transparansi dan Perlindungan, Bukan Larangan Total

Spotify sedang mengembangkan standar industri baru bareng organisasi DDEX (Digital Data Exchange) untuk mengidentifikasi dan memberikan tanda khusus untuk musik yang dihasilkan/menggunakan AI. Sistem ini bakal memungkinkan label, distributor, dan artis untuk melaporkan penggunaan AI di berbagai tahap produksi—vokal, instrumen, dan lainnya saat recording, mixing, editing ataupun post-production.

Tiga pilar kebijakan AI Spotify per September 2025:

1. Penegakan Larangan Impersonasi yang Lebih Ketat
Platform ini melarang keras penggunaan AI untuk membuat voice clone (duplikasi) atau deepfake tanpa izin artis terkait. Kasus seperti lagu AI yang meniru suara Drake atau The Weeknd udah langsung dihapus dari platform. Spotify menegaskan bahwa duplikasi vokal tanpa izin/otorisasi dianggap sebagai eksploitasi tidak etis dan ilegal dari identitas artis dan dapat mengancam integritas karya mereka.

2. Sistem Filter Spam Musik yang Canggih
Spotify juga telah meluncurkan sebuah sistem baru yang bisa mendeteksi praktik curang tertentu seperti unggahan masal, duplikasi, track yang terlalu pendek, dan manipulasi SEO. Filter ini akan diimplementasikan secara bertahap dan terus diperbaharui dan disesuaikan seiring berkembangnya tren pasar.

3. Keterbukaan (Disclosure) AI dengan Standar DDEX
Ini yang paling penting: Spotify ngga melarang AI, tapi mewajibkan keterbukaan atau transparansi. Mereka bekerja sama dengan 15 label dan distributor untuk mengadopsi Standar DDEX yang dapat memudahkan pencatatan dan penandaan elemen musik yang dibuat dengan AI, agar lebih transparan bagi semua pihak. Informasi ini nantinya bakal ditampilkan ke pendengar, meskipun belum jelas apakah akan mempengaruhi pembagian royalti atau ngga. Yang menarik, eksekutif Spotify malah bilang: Kami sama sekali tidak melarang penggunaan AI selama dipakai dengan cara yang positif. Malah, kami yakin AI bisa membantu artis untuk menciptakan musik yang lebih kreatif”. Tapi di saat yang sama mereka juga tegas: “Kami berusaha menjaga platform tetap adil dengan menghentikan mereka yang menggunakan AI, memanipulasi dan memakai cara curang untuk merusak sistem”.

Deezer: Pionir Deteksi AI dan Pemberian Label Transparansi

Deezer bisa dibilang salah satu platform streaming yang paling proaktif terkait hal ini. Sejak awal 2025, mereka udah punya sistem deteksi AI yang bisa mengidentifikasi 100% musik yang dibuat dari generator AI paling populer kayak Suno dan Udio. Angkanya ternyata cukup mencengangkan 😮:

  • Januari 2025: 10% dari musik yang diunggah setiap hari adalah musik AI
  • April 2025: Naik jadi 18%
  • September 2025: Melonjak ke 28% atau lebih dari 30.000 track per hari šŸ“ˆ

Kebijakan Deezer terhadap musik AI:

  • Menandai (Label) semua musik AI supaya transparan buat pendengar
  • Mengeluarkan musik AI dari rekomendasi algoritma dan playlist editorial
  • Memfilter streaming palsu (BOT) yang sengaja dibuat agar lagu terlihat banyak diputar untuk memanipulasi sistem dari pembagian royalti
  • Tidak menghapus musik AI, selama tidak melanggar hak cipta atau melakukan kecurangan tertentu dan manipulatif.

CEO Deezer, Alexis Lanternier, bilang: “Setelah peningkatan yang sedemikian masif sepanjang tahun ini, musik AI saat ini sudah menjadi bagian penting dari lagu-lagu yang masuk ke layanan streaming tiap harinya. Kami ingin memimpin dalam segenap upaya meminimalkan dampak negatif untuk artis dan fans”.

Deezer bahkan udah mengajukan dua paten untuk teknologi deteksi AI mereka pada Desember 2024, yang fokus untuk menemukan atau mengenali ciri khas dan tanda unik tertentu yang digunakan untuk membedakan konten sintetis dari konten autentik.

Apple Music: Ketat di Verifikasi, belum Ada Pernyataan Resmi

Apple Music, sebagaimana ciri khas perusahaan utamanya dengan sistem tertutup (closed-system)šŸ˜… tergolong Platform yang paling tertutup soal kebijakan AI. Mereka belum ada pengumuman resmi secara khusus tentang musik AI seperti Spotify atau Deezer. Yang jelas, semua pihak yang mengunggah dan mempublikasikan musik ke Apple Music harus membuktikan kepemilikan hak cipta atas karyanya. Platform ini tercatat pernah menghapus lagu viral “Heart on My Sleeve” yang menggunakan duplikat vokal AI mirip Drake dan The Weeknd karena komplain hak cipta.

Distributor musik juga melaporkan bahwa Apple Music mulai menambahkan persyaratan dan ketentuan tambahan untuk proses verifikasi, terutama lewat distributor seperti DistroKid. Ada indikasi kalau mereka mulai memperketat aturan soal musik AI, meski belum melarang secara resmi —lebih ke pengetatan verifikasi dan dokumentasi.

SoundCloud: Boleh Upload, Tapi Ngga Bisa Dimonetisasi 😢

SoundCloud punya kebijakan yang cukup jelas: lagu yang dibuat sepenuhnya dengan AI ngga boleh dimonetisasi. Platform ini juga tegas menyatakan bahwa mereka “tidak pernah dan tidak akan menggunakan konten artis untuk melatih model AI” dan melarang pengambilan data oleh pihak ketiga dari platformnya. Yang unik dari SoundCloud, mereka bakal nawarin opsi “no AI” tag dan untuk tools AI generatif di masa depan, mereka juga akan menerapkan opt-in consent atau persetujuan aktif dan eksplisit dari pengguna atau artis sebelum data mereka digunakan, khususnya untuk melatih model AI. Plus, per Oktober 2025, SoundCloud meluncurkan All-in-One Artist Subscription yang memungkinkan artis bisa mendapatkan 100% royalti mereka—tanpa harus revenue share dengan platform. Menariknya, SoundCloud juga mulai membolehkan artis untuk menyetujui dan membiarkan konten mereka digunakan untuk melatih AI—tapi dengan persetujuan yang diberikan secara sadar dan bisa ditarik kembali/dibatalkan kapan saja oleh pengguna atau artis tersebut jika mereka berubah pikiran.

Youtube Music: Transparansi Wajib, Resiko Take Down

YouTube punya kebijakan tersendiri yang udah diumumkan jauh hari sebelumnya, sejak November 2023 dan diperkuat sepanjang 2024-2025. Intinya:

1. Wajib Disclosure untuk Konten Realistis yang Dibuat AI
Kreator harus melabeli konten yang dibuat dengan AI, terutama yang terlihat atau terdengar realistis. Untuk musik, kebijakannya lebih ketat—konten AI yang meniru suara unik seorang artis akan menghadapi pemeriksaan yang lebih mendetail dan lebih ketat.

2. Takedown untuk AI Voice Clone Tanpa Izin
Partner musik YouTube (artis, kreator, label dan distributor) bisa meminta penghapusan konten musik AI yang meniru vokal artis mereka. Platform akan melihat dulu apakah konten itu cuma bercanda (Parodi/Satire), berita, atau kritik sebelum memutuskan untuk menghapusnya.

3. Penegasan dan Penegakan Aturan Mulai 15 Juli 2025
YouTube mulai memberlakukan beberapa aturan terkait yang lebih ketat untuk konten AI yang ngga punya faktor keterlibatan/andil manusia secara jelas—seperti sulih suara (VO), komentar, footage tanpa penampilan orang, atau narasi suara dan hanya gambar statis. Konten yang kayak gitu bisa dianggap ngga kreatif dan ngga bisa dimonetisasi.

Platform Lain: Joox, Tidal, dan Lainnya

Untuk Joox, seperti halnya Apple Music, sampai hari ini juga belum ada pernyataan publik yang jelas tentang kebijakan AI musik di Platformnya hingga saat ini. Platform ini fokus ke AI untuk rekomendasi dan kurasi playlist, tapi belum ada kebijakan eksplisit soal musik AI-generated.

Tidal juga belum punya kebijakan AI yang dipublikasikan secara transparan. Platform ini lebih fokus ke pembayaran yang lebih tinggi untuk artis (sekitar $0.013 per stream), tapi ngga ada aturan ataupun panduan khusus terkait tentang musik AI.

Kalau kamu cepet lelah dan bosen membaca tulisan panjang ini, kamu bisa santai dengerin ringkasan berupa obrolan ini.

Gugatan Hukum: Label Besar VS Platform AI Musik

Salah satu alasan kenapa platform streaming jadi lebih ketat saat ini, adalah karena kasus gugatan hukum besar-besaran yang terjadi sejak pertengahan 2024. Pada Juni 2024, Recording Industry Association of America (RIAA)—yang mewakili Sony Music, Universal Music Group (UMG), dan Warner Records—mengajukan gugatan hak cipta terhadap Suno dan Udio.

Inti Gugatan

Label-label besar menuduh Suno dan Udio melakukan pelanggaran hak cipta masif dengan melatih model AI mereka menggunakan rekaman musik berhak cipta tanpa izin atau lisensi. Mereka mengklaim bahwa ketika diuji, output dari Suno dan Udio bisa meniru rekaman yang dilindungi hak cipta—menunjukkan bahwa model AI tersebut dilatih menggunakan pustaka musik dari artis/label yang mereka naungi. Gugatan ini menuntut tiga hal:

  1. Deklarasi bahwa kedua layanan Platform AI tersebut telah melanggar hak cipta rekaman suara
  2. Injunction (perintah pengadilan) untuk menghentikan pelanggaran di masa depan
  3. Ganti rugi hingga $150,000 per lagu yang dilanggar

Update Oktober 2025: Universal Music Berdamai dengan Udio

Plot twist terjadi pada 30 Oktober 2025, ketika Universal Music Group mengumumkan settlement (kesepakatan penyelesaian) dengan Udio. Ini mengejutkan karena mereka ngga cuma berdamai, tapi juga bermitra untuk mengembangkan platform kreasi musik AI berlisensi yang akan diluncurkan tahun 2026. Detail kesepakatannya:

  • UMG dan Udio mencapai compensatory legal settlement (penyelesaian finansial)
  • Perjanjian lisensi baru untuk rekaman musik dan publishing yang akan memberi peluang pendapatan tambahan untuk artis dan penulis lagu UMG
  • Kolaborasi untuk mengembangkan tools kreasi musik profesional generasi berikutnya
  • Kemitraan/Partnership dengan Stability AI untuk musik production tools

Yang penting dicatat: Model Udio yang sekarang masih bisa diakses user, tapi akan diregulasi dan dilakukan pembatasan dalam bentuk sistem tertutup atau “walled garden”, di mana hanya pihak tertentu yang bisa mengakses, mengatur, atau menggunakan konten. Semua aktivitas di dalamnya diawasi dan dibatasi. Selain itu semua musik yang dihasilkan akan di diberi tanda khusus (audio watermark & fingerprint) supaya bisa dikenali dan dilacak dengan benar.

Sementara itu, Sony dan Warner belum ada kesepakatan serupa dengan Udio, dan kedua label besar tersebut bersama UMG masih melanjutkan gugatan mereka terhadap Suno. Selain itu, ada juga gugatan kelompok artis dan musisi lain yang masih berjalan.

Tuduhan Stream-Ripping

Plot makin rumit ketika pada Oktober 2025, label-label besar menambahkan tuduhan baru: bahwa Suno dan Udio melakukan “stream-ripping”—mengunduh musik dari YouTube dengan cara yang melanggar Digital Millennium Copyright Act (DMCA).

Label mengatakan bahwa Suno dan Udio membobol sistem pengaman digital (Technical Protection Measures/TPMs) agar bisa mengambil konten YouTube untuk mendapatkan training dataset, yang merupakan pelanggaran DMCA, meskipun isi yang diambil mungkin bisa masuk kategori ā€œfair useā€. Suno dan Udio merespons dengan mengajukan amicus brief (pendapat hukum dari pihak ketiga) dalam kasus terpisah: Yout vs. RIAA, sebuah perkara hukum yang pada tahun 2022 menghasilkan putusan bahwa stream-ripping melanggar Digital Millennium Copyright Act (DMCA).
Catatan: Fair use adalah aturan hukum yang membolehkan penggunaan sebagian konten berhak cipta tanpa izin, asalkan untuk tujuan tertentu seperti pendidikan, kritik, atau berita.

šŸŽÆ Tujuan Amicus Brief Suno dan Udio:

  • Menantang putusan tahun 2022 yang menyatakan bahwa stream-ripping adalah ilegal.
  • Menyatakan bahwa putusan tersebut mengancam prinsip fair use, yang menjadi dasar pembelaan mereka dalam kasus pelatihan AI menggunakan karya berhak cipta.
  • Menekankan bahwa DMCA seharusnya membedakan antara ā€œaccess controlsā€ dan ā€œcopy controlsā€, dan bahwa bypass terhadap copy controls (seperti mengunduh konten yang sudah bisa diakses publik) tidak seharusnya dianggap pelanggaran hukum.

šŸ” Mengapa Ini Penting?

  • Jika pengadilan tetap menganggap stream-ripping sebagai pelanggaran, maka Suno dan Udio bisa gagal menggunakan pembelaan fair use dalam kasus pelatihan AI mereka.
  • Putusan ini juga bisa berdampak luas terhadap penggunaan konten digital oleh kreator lain, seperti pembuat dokumenter, pendidik, dan musisi independen.

Dengan amicus brief ini, Suno dan Udio berharap bisa mengubah preseden hukum yang bisa merugikan mereka dan banyak kreator lain di masa depan.

Gugatan Terbaru: November 2025

Tanggal 3 November 2025, organisasi hak musik Denmark KODA mengajukan gugatan terhadap Suno. Mereka mewakili sekitar 51.000 komposer, penulis, dan publisher, dengan bukti konkret penggunaan lagu dari artis Denmark terkenal seperti Aqua dan MƘ tanpa izin. KODA bilang musik yang diproduksi Suno bisa meniru karya asli dan “menempatkan mereka dalam kompetisi langsung dengan karyanya sendiri yang sudah dimanipulasi/dieksploitasi”.

Distribusi Musik AI: Apakah Distributor Membolehkan?

Buat kamu yang pengen release musik AI lewat distributor/agregator, situasinya juga beragam. Berdasarkan riset,  berikut ini sikap dan kebijakan berbagai distributor besar:

DistroKid

Menerima musik AI-generated dengan pembatasan hak cipta. Kamu harus memiliki hak cipta. Kebijakan DistroKid adalah mengikuti kebijakan yang sesuai dengan masing-masing platform streaming. Tapi hati-hati dan waspadai: Ketentuan Layanan (ToS) DistroKid memberi mereka lisensi luas untuk menggunakan konten kamu sebagai dataset pelatihan model AI dan Machine Learning.

TuneCore

Menerima musik AI-generated tapi dengan pembatasan ketat. Lagu yang diajukan ngga boleh sepenuhnya AI-generated—kamu tetap harus menambahkan instrumen live atau vokal. Plus, AI yang digunakan harus punya izin untuk menggunakan musik berhak cipta untuk training—yang berarti platform seperti Suno dan Udio (yang sedang digugat) ngga memenuhi syarat. Ketentuan Layanan (ToS) dari TuneCore juga membolehkan penggunaan musik dalam platformnya untuk dijadikan dataset pelatihan aplikasi AI dan machine learning. Sampai hari ini terpantau TuneCore masih melakukan filtering dan pengecekan ulang secara bertahap dan terus menerus secara ketat, namun masih ada beberapa user pengunggah musik AI yang lolos dan terverifikasi ā€œamanā€.

CD Baby

Pada 2023, CD Baby pernah menyatakan: “Kamu ngga akan bisa mendistribusikan konten yang dibuat AI. Meskipun generator AI yang kamu pakai mengizinkan penggunaan komersial, ngga ada cara untuk memastikan unique sounds atau kepatuhan hak”. Status ini masih berlaku hingga hari ini, 2025.

LANDR

Menerima musik AI-generated dengan pembatasan hak cipta. Kamu harus memiliki hak cipta. LANDR adalah satu-satunya distributor yang secara eksplisit menyatakan penerimaan musik AI dengan ketentuan dan panduan yang cukup jelas.

Symphonic

CEO Symphonic, Jorge Brea memberikan respons paling detail dan mendukung. Symphonic bermitra dengan perusahaan yang memungkinkan mereka memindai lagu/audio sebelum diteruskan ke platform streaming untuk mencegah konten yang melanggar hak cipta. Mereka mengakui AI sebagai teknologi yang berkembang dan menekankan perlunya kolaborasi industri.

Poin Penting untuk Rilis Musik AI

Kalau kamu mau rilis musik yang dibuat dengan AI generator seperti Suno atau Udio, perhatikan hal-hal ini:

1. Lisensi Komersial dari Platform AI

  • Suno: Free plan ngga dapet izin komersial, yaitu izin untuk menyebarluaskan dan mendapatkan keuntungan dari monetisasi. Butuh langganan Pro ($10/bulan, ~500 lagu) atau Premier ($30/bulan, ~2,000 lagu) untuk izin/penggunaan komersial
  • Udio: Sebelum kesepakatan dengan UMG, pengguna dengan akun free tier mendapatkan izin penggunaan komersial, dan paid plan (Standard $10/bulan, Pro $30/bulan) memberikan lebih banyak credit dan fitur

2. Kepemilikan Hak Cipta
Mengenai Hak Cipta atau di Indonesia lebih sering disebut dengan ā€œKarya Cipta (HKI)ā€ sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah yang rumit dan ngga gampang ditelaah. Menurut US Copyright Office dan putusan pengadilan terbaru (Maret 2025), karya yang sepenuhnya dibuat oleh AI tidak bisa didaftarkan hak cipta, karena tidak ada kontribusi manusia yang signifikan. Artinya karya tersebut masuk public domain, yaitu wilayah hukum di mana siapa pun bebas menggunakan, mereproduksi, atau mendistribusikan karya tersebut tanpa perlu izin atau membayar royalti. Tapi kalau kamu bisa tunjukin adanya input kreatif manusia yang cukup—seperti menulis lirik sendiri, menata dan menggubah struktur lagu, edit dan modifikasi bagian dengan efek tambahan, atau menambah vokal/instrumen sendiri—maka kamu bisa mengklaim hak cipta atas karya tersebut.

3. Keterbukaan dan Transparansi (Disclosure)
Dengan standar DDEX yang sedang dikembangkan, kedepannya kamu bakal diminta untuk lebih terbuka,jujur dan menyebutkan kalau musikmu dibuat dengan bantuan AI, terutama di bagian kredit/metadata (informasi mengenai lagu). Tujuannya bukan untuk menghukum, tapi supaya semuanya lebih terbuka dan jelas.

4. Hindari Peniruan Identitas (Impersonasi) dan Penggunaan Sampling Ilegal
Jangan coba-coba bikin musik AI yang dengan sengaja meniru suara artis tertentu tanpa izin ataupun mengambil potongan musik dari karya lain dan menggunakannya dalam lagu baru. Ini pasti langsung di takedown.

Dampak Ekonomi: Ancaman Pendapatan Musisi

Sekarang kita akan ngebahas masalah utama yang jelas terlihat, tapi sering diabaikan atau tidak dibicarakan secara langsung: dampak ekonomi musik AI terhadap musisi manusia. Dan sayangnya, proyeksinya ternyata ngga bagus. 😭

Studi CISAC: Kerugian Hingga €4 Miliar/Tahun sampai 2028

Studi ekonomi global yang dilakukan oleh CISAC (ConfĆ©dĆ©ration Internationale des SociĆ©tĆ©s d’Auteurs et Compositeurs) bersama PMP Strategy pada akhir 2024 memproyeksikan bahwa:

  • Pada 2028, 23% pendapatan kreator musik akan terancam karena AI generatif
  • Kerugian kumulatif dalam 5 tahun ke depan: hingga €10 miliar
  • Kerugian tahunan di 2028 saja: €4 miliar
  • Di saat yang sama, €4 miliar tersebut akan masuk ke kantong perusahaan teknologi yang membuat AI musik generatif (Suno, Udio, Soundful, Rifussion, dll)
  • Pasar musik AI generatif akan dominan dan tumbuh jadi €16 miliar per tahun pada 2028

Untuk musisi Australia khususnya, proyeksinya adalah kerugian kumulatif AUD$519 juta hingga 2028.

Mengapa Ini Terjadi?

Masalah ini punya banyak sisi—bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal ekonomi, hukum, etika, dan keadilan bagi musisi manusia.:

1. Streaming Platform Bisa Hemat Miliaran
Platform bisa pilih musik karya AI yang jauh lebih murah ketimbang bayar lisensi untuk karya manusia. Tanpa kebijakan serta pengaturan transparansi dan keterbukaan, banyak pendengar mungkin ngga sadar kalau mereka menikmati musik yang sepenuhnya AI atau karya mesin pintar.

2. Ledakan Karya AI dan Konten tak Berkualitas (Sampah Digital)
Dengan tools AI yang makin banyak dan mudah diakses, startup kecil dan bahkan developer perorangan bisa membuat berbagai aplikasi generatif dan tool AI musik  yang setara dengan studio profesional. Dan hasilnya bisa dipastikan akan membanjiri platform dengan karya AI dan bikin artis independen makin susah bersaing atau bertahan.

3. Algoritma Platform Cenderung ke Musik AI
Sistem rekomendasi otomatis (Algoritma) di platform streaming sering kali lebih memunculkan lagu-lagu buatan AI dibandingkan musik dari musisi manusia, terutama untuk musik latar atau yang didengarkan sambil lalu.

4. Pelatihan AI Tanpa Izin 🧠
Banyak perusahaan AI melatih sistem mereka menggunakan lagu-lagu dari musisi asli tanpa izin atau persetujuan. Artinya, karya musik yang sudah dibuat dan dilindungi hak cipta dipakai untuk melatih teknologi AI—tanpa sepengetahuan atau bayaran kepada penciptanya. Ini jadi masalah besar karena:

  • Musisi kehilangan kendali atas karya mereka.
  • Tidak ada kompensasi atas penggunaan lagu mereka.
  • Musik AI yang dihasilkan bisa bersaing langsung dengan karya asli mereka.

Bayangkan lagu kamu dipakai untuk melatih mesin, lalu mesin itu membuat lagu baru yang mirip—dan kamu tidak tahu, tidak setuju, dan tidak dapat apa-apa. Inilah yang membuat banyak musisi dan organisasi hak cipta marah dan merasa dieksploitasi. CISAC Director General Gadi Oron bilang ini menunjukkan “nilai sangat besar yang diberikan oleh karya berhak cipta untuk perusahaan musik generatif AI” tapi “pemilik karya tidak dihargai secara adil dan beretika”.

Fitch Ratings: Dampak ke Royalty-Backed Securities

Bahkan lembaga rating keuangan seperti Fitch Ratings telah memberikan peringatan khusus terkait pada Oktober 2025 bahwa pertumbuhan musik AI bisa mempengaruhi instrumen keuangan yang berbasis royalti musik (Intellectual Properties with Asset-Backed Securities). Ini berpotensi menurunkan pembayaran royalti, yang selama ini menjadi dasar dari investasi keuangan seperti royalty-backed securities—yaitu surat utang atau aset yang nilainya bergantung pada pendapatan dari musik asli.

Kenapa ini penting?

  • Musik AI bisa dibuat lebih cepat dan murah, sehingga platform streaming lebih memilihnya.
  • Akibatnya, lagu dari musisi manusia bisa kalah bersaing dan royalti mereka menurun.
  • Jika royalti turun, maka nilai investasi yang bergantung pada royalti juga ikut terdampak.

Dampaknya:

Musik AI bukan cuma mengubah cara kita mendengar musik, tapi juga bisa mengganggu stabilitas ekonomi di industri musik, termasuk investasi yang selama ini mendukung artis dan label.

Regulasi dan Perlindungan Hukum: Apa yang Perlu Berubah?

Jelas bahwa kerangka hukum hak cipta saat ini masih terus berproses untuk mengakomodasi AI. Undang-undang Hak Cipta dikembangkan untuk melindungi kreativitas manusia, dan keberadaan AI saat ini seolah menantang konsep dasar seperti kepenciptaan (authorship), keaslian (originality), dan kepemilikan (ownership).

Apa Yang Butuh Reformasi?

Berdasarkan analisis berbagai jurnal dan literatur kebijakan terkait, beberapa hal yang menurut saya penting dan urgent:

1. Pengakuan Legal untuk Karya Kolaborasi Manusia-AI
Sistem hak cipta perlu mengakomodir kategori perlindungan khusus untuk kolaborasi (co-creation) Manusia-AI yang mengakui kontribusi algoritma sambil tetap memprioritaskan input kreatif manusia dalam prosesnya.

2. Transparansi Data Training Wajib
Perusahaan dan atau Platform AI harus terbuka, jujur dan transparan terkait dataset training model AI yang mereka gunakan—musik apa saja yang dipakai, dari mana, dan dengan izin siapa.

3. Izin Aktif, Bukan Otomatis (Opt-In, Bukan Opt-Out)

Ke depannya, sistem lisensi harus berdasarkan persetujuan aktif dari artis (opt-in), bukan otomatis melatih AI pakai karya mereka tanpa izin. Artis harus punya kendali penuh atas apakah lagu atau suara mereka boleh digunakan untuk melatih teknologi AI atau tidak.

Tujuannya adalah:

  • Melindungi hak cipta dan identitas kreator
  • Memberi kontrol kepada musisi atas penggunaan karya mereka
  • Mencegah eksploitasi tanpa sepengetahuan pencipta asli

4. Kompensasi untuk Data Training
Kalau karya seorang artis digunakan untuk training, mereka harus dapat kompensasi yang adil. Model yang sudah ada dan bisa menjadi contoh adalah seperti kemitraan ElevenLabs dan Kobalt Music, di mana artis dapat kompensasi untuk penggunaan musik mereka dalam training AI model.

5. Perlu Aturan Global yang Seragam untuk Musik AI šŸŒ

Setiap negara punya pendekatan berbeda soal musik AI:

  • Amerika Serikat menganggap pelatihan AI bisa masuk kategori fair use (penggunaan wajar).
  • Uni Eropa punya aturan khusus (Article 4 Directive 2019/790) yang mengizinkan pelatihan AI, tapi pencipta bisa memilih untuk menolak (opt-out). šŸ‘
  • Inggris sedang mempertimbangkan aturan yang lebih longgar.
  • Indonesia belum punya regulasi khusus tentang AI sama sekali. šŸ™šŸ˜

Karena perbedaan ini, perusahaan bisa memilih beroperasi di negara dengan aturan paling longgar—ini disebut regulatory arbitrage.

Maka dari itu, dibutuhkan kesepakatan internasional atau harmonisasi aturan global, supaya perlindungan hak cipta dan etika penggunaan AI bisa berlaku adil di semua negara.

6. Label dan Keterbukaan yang Jelas di Semua Platform

Standar DDEX yang sedang dikembangkan adalah langkah bagus untuk mencatat penggunaan AI dalam musik. Tapi ke depannya, semua platform streaming perlu menerapkan aturan wajib agar setiap lagu yang dibuat dengan bantuan AI harus diberi label dan dijelaskan secara terbuka. Tujuannya:

  • Supaya pendengar tahu apakah lagu dibuat oleh manusia, AI, atau kolaborasi keduanya.
  • Untuk menjaga transparansi dan kepercayaan di industri musik.
  • Agar pembagian royalti dan hak cipta bisa lebih adil.

Intinya, bukan soal melarang AI, tapi soal jujur dan terbuka tentang bagaimana musik itu dibuat.

Situasi di Indonesia

Untuk Indonesia sendiri, penelitian hukum terbaru menunjukkan bahwa AI ngga diakui sebagai entitas legal dalam berbagai peraturan—termasuk Pasal 1367 KUH Perdata, UU ITE, UU Paten, UU Hak Cipta, dan PP No. 71 Tahun 2019. UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ngga mengakui AI sebagai pencipta karena ngga memenuhi kriteria “manusia”.

Indonesia perlu:

  • Membuat regulasi AI yang spesifik
  • Implementasi teknologi blockchain untuk pelacakan dan perlindungan royalti
  • Adopsi Praktik Terbaik dari yang sudah diterapkan secara Global/Internasional
  • Update dan Revisi UU Hak Cipta untuk mengakomodasi karya AI-generated dengan penekanan pada keterlibatan aktif manusia dalam proses penciptaan karya

Masa Depan: Ekspektasi 2026 dan Seterusnya

Berdasarkan tren dan perkembangan yang ada, ini beberapa hal yang memungkinkan terjadi:

Skenario Optimis: Ekosistem Kolaboratif

  • Platform AI Berlisensi seperti hasil partnership UMG-Udio jadi standar
  • Artis punya kontrol penuh atas voice licensing dan data usage
  • Transparansi penuh dengan label AI di semua platform streaming
  • Penerapan Kompensasi yang Adil untuk training dataset dan konten AI-generated
  • AI jadi Tools Kolaborasi yang menguatkan dan mendukung kreativitas manusia, bukan menumpulkan atau menggantikan.

Skenario Pesimis: Dominasi Teknologi

  • Perusahaan/Platform AI terus berjalan tanpa konsekuensi hukum menggunakan datasets tanpa lisensi (ilegal)
  • Regulasi yang Longgar di Beberapa Negara. Di negara seperti Amerika Serikat, aturan soal pelatihan AI masih longgar. Ini bisa melemahkan perlindungan hak cipta dan membuat karya musisi lebih rentan disalahgunakan.
  • Platform Streaming Lebih Memilih Musik AI. Karena musik AI lebih murah dan cepat dibuat, banyak platform lebih memilihnya dibanding musik dari manusia. Ini bisa mengurangi peluang musisi untuk tampil dan mendapatkan royalti.
  • Artis Independen Makin Tersisih. Ledakan lagu-lagu AI yang jumlahnya sangat banyak dan kualitasnya tidak selalu bagus membuat artis independen makin sulit bersaing dan terlihat di platform.
  • Penurunan Nilai Musik dan Royalti. Ketika musik AI mendominasi, nilai ekonomi musik bisa turun. Royalti yang diterima musisi juga bisa makin kecil, karena persaingan makin tidak seimbang.

Yang Paling Mungkin: Hybrid Reality

Realitanya akan ada di antara kedua ekstrem ini. Kita bakal lihat:

  • Beberapa Platform lebih Tegas dan Ketat (kayak Deezer), beberapa Longgar (tergantung model bisnis/usaha)
  • Sebagian Perusahaan AI Memilih Damai, Sebagian Masih Digugat
    Beberapa perusahaan AI seperti Udio sudah berdamai dan membuat kesepakatan lisensi dengan label musik besar. Tapi yang lain masih menghadapi gugatan hukum karena pelanggaran hak cipta.
  • Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
    Setiap negara punya standar hukum yang berbeda soal musik AI. Ini bikin regulasi jadi tambal sulam, dan perusahaan bisa memilih beroperasi di negara dengan aturan paling longgar.
  • Musik AI dan Musik Manusia Bisa Hidup Berdampingan
    Musik buatan AI dan karya manusia bisa eksis bersama, asalkan ada label yang jelas dan perlindungan hak cipta yang adil.
  • Model Bisnis Baru Mulai Bermunculan
    Sekarang mulai muncul cara baru untuk menghasilkan uang dari musik, seperti: Lisensi musik AI, Alat bantu kreasi hybrid (AI + manusia), Asisten musik AI yang dipersonalisasi.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan Sebagai Musisi? šŸŽµ

Kalau kamu artis, musisi atau kreator, ini langkah praktis yang bisa kamu ambil sekarang:

  • Dukung Regulasi yang Lebih Kuat
    Suarakan pentingnya reformasi hak cipta (HKI), sistem izin yang jelas (opt-in), dan kompensasi yang adil. Gabung dengan komunitas atau organisasi yang membela hak kreator.
  • Catat Proses Kreatifmu
    Kalau kamu pakai AI, dokumentasikan kontribusi manusiamu—seperti ide, pengeditan, aransemen, dan rekaman. Ini penting untuk membuktikan bahwa kamu adalah pencipta jika ada sengketa.
  • Pahami Kebijakan Platform
    Setiap platform punya aturan berbeda soal musik AI. Jangan anggap semuanya sama—selalu cek kebijakan terbaru sebelum mengunggah karya.
  • Jujur, Terbuka dan Transparan Tentang Penggunaan AI
    Kalau kamu pakai AI, sebutkan dengan jelas. Ini membangun kepercayaan dengan pendengar dan mempersiapkan kamu untuk aturan transparansi yang mungkin wajib di masa depan.
  • Pilih Alat dan Mitra yang Tepat
    Gunakan platform AI yang jelas soal lisensi dan data pelatihan. Pilih distributor yang paham dan menghargai kebijakan musik AI.
  • Diversifikasi Sumber Penghasilan
    Jangan hanya mengandalkan royalti dari streaming. Coba juga penjualan langsung ke fans, merchandise, konser, lisensi musik untuk film/iklan, atau kerja sama dengan Platform AI berlisensi.
  • Lindungi Suara dan Identitasmu
    • Daftarkan karya musikmu, pahami hak-hakmu, dan aktif memantau jika ada pihak yang menggunakan suara atau identitasmu tanpa izin. Kenapa ini penting?
    • Teknologi AI bisa meniru suara artis dengan sangat mirip.
    • Tanpa perlindungan, suara kamu bisa dipakai untuk membuat lagu atau konten tanpa sepengetahuanmu.
    • Identitas kreatifmu adalah aset berharga—jaga agar tidak disalahgunakan.

Jadi, jangan hanya fokus pada karya, tapi juga lindungi siapa kamu sebagai kreator.

Kesimpulan: Bukan Larangan, Tapi Regulasi dan Transparansi

Jadi, untuk menjawab pertanyaan awalmu: Tidak, musik AI tidak akan dihapus total dari platform streaming musik. Yang terjadi sekarang bukan pelarangan total, tapi evolusi kebijakan yang lebih canggih. Platform streaming seperti Spotify, YouTube, Deezer, SoundCloud, dan Apple Music mulai menerapkan aturan baru yang fokus pada:

  • Transparansi: Musik AI harus diberi label dan diungkapkan secara jelas.
  • Pencegahan Penipuan: Konten yang meniru suara artis tanpa izin atau dibuat untuk manipulasi sistem akan dihapus.
  • Perlindungan Artis: Platform melarang impersonasi dan deepfake vokal.
  • Kerangka Lisensi: Beberapa perusahaan AI mulai bekerja sama dengan label musik untuk membuat sistem lisensi yang adil. Contohnya:
  • Spotify dan YouTube masih menerima musik AI, asal ada disclosure dan tidak melanggar aturan.
  • Deezer menerima musik AI tapi menghapusnya dari rekomendasi dan memberi label khusus.
  • SoundCloud membolehkan upload musik AI, tapi tidak bisa dimonetisasi jika sepenuhnya dibuat oleh AI.
  • Apple Music lebih ketat dalam verifikasi, tapi belum melarang secara eksplisit.

Dengan adanya gugatan hukum dan kesepakatan seperti antara UMG dan Udio, kita sedang menuju era baru: Platform musik AI berlisensi yang menghormati hak cipta dan memberi kompensasi kepada pencipta asli.

Musik AI ngga akan hilang—teknologinya terlalu powerful dan saat ini semakin berkembang dan terus menyebar. Tapi bagaimana AI ini diregulasi, dilabeli, dan dimonetisasi akan menentukan apakah masa depan dunia kreatif termasuk musik akan jadi penguatan kreativitas manusia atau menghapus dan mengganti artis, seniman, musisi dan kreator. Kita semua yang putuskan dan jalani sama-sama, baik sebagai eksekutor, legislator ataupun pengawas dan penyusun kebijakan yang terus berkembang. Sebagai kreator yang berada di tengah perubahan besar ini, penting banget untuk:

  • Tetap update dengan perkembangan terbaru
  • Bersikap terbuka dan jujur soal penggunaan AI
  • Memperjuangkan hak cipta dan sistem yang adil
  • Melihat AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia

Karena pada akhirnya, yang membuat musik punya jiwa, makna, dan koneksi emosional adalah manusia di baliknya—entah mereka bermain gitar, pakai synthesizer, atau berkolaborasi dengan AI.

Ingat: yang perlu dilawan bukan teknologi AI-nya, tapi eksploitasi, ketertutupan, dan penyalahgunaan karya kreator. Dengan regulasi yang tepat, transparansi, dan penghormatan terhadap hak cipta, AI dan musisi manusia bisa hidup berdampingan dan berkembang bersama.

Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image