Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Remah-remah Perjalanan

“Enjoy the little things, for one day you may look back and realize they were the big things.”

Robert Brault

Hai!, Assalamualaikum.😀

Minggu pagi yang cukup cerah, walau awan yang beriringan masih menyisakan sedikit mendung dibalik cahaya yang menyapa. Sekujur doa masih kita panjatkan bersama untuk mereka yang masih berjuang dan bertahan ditengah musibah dan bencana beberapa waktu belakangan ini. Segenap teguran dan amarah alam yang menghempas hidup telah menyisakan ruang hening yang begitu dalam. Menjadi jeda kita bersama dipenghujung tahun 2025 ini.

“Desember selalu punya caranya sendiri untuk memaksa kita menoleh ke belakang. Bukan untuk menghitung berapa piala yang didapat, tapi untuk memungut kepingan-kepingan kecil yang mungkin tercecer saat kita berlari terlalu kencang tahun ini.”

Tiga tahun lalu aku pernah menulis tentang ‘Perlahan‘. Hari ini, di 2025 yang akan berlalu dan melintas seolah terus dipacu dengan berlari sprint, aku kembali belajar bahwa kewarasanku terjaga dan mampu bertahan, bukanlah karena diselamatkan oleh teknologi canggih dan AI, melainkan oleh hal-hal yang sangat… manusiawi.

Kalau kamu malas dan cepat lelah membaca tulisan ini, kamu bisa menyimak audio podcast ini dengan santai.

Menjelang akhir 2025 ini terkadang rasanya seperti duduk di kursi yang sama sedemikian lama: tubuh masih di situ, diam ditempat, tapi pikiran sudah minta pindah dan berjalan kesana kemari. Di titik ini, terasa sekali, ketenangan dan kebahagiaan ternyata bukan datang dari hal-hal besar, melainkan dari hal-hal kecil yang seringkali kita anggap remeh.

Akhir tahun yang bikin bising

Menjelang Desember, banyak orang bukan cuma lelah karena pekerjaan, tapi juga karena “kebisingan” mental: target yang belum selesai, chat yang ngga ada habisnya, dan rasa harus menutup tahun dengan sesuatu yang terlihat sukses. Dan hal ini bukan lagi soal personal yang kita rasakan sendiri, di level global, survei Burnout Report 2025 dari Mental Health UK mencatat 91% responden mengalami tekanan tinggi setidaknya pada satu titik dalam setahun terakhir. Wajar kalau penghujung tahun sering terasa semakin berat, karena Desember kerapkali menambah stres lewat deadline, urusan keluarga, dan evaluasi diri yang datang bersamaan di satu waktu.​

Yang bikin capek bukan cuma banyaknya tugas, tapi juga dorongan halus untuk “membuktikan” bahwa hidup kita sedang baik-baik saja: tetap produktif, selalu sibuk, dan punya berbagai rencana besar untuk 2026 mendatang. Padahal, ada jenis lelah yang ngga akan selesai hanya dengan tidur panjang, karena penyebabnya ternyata bukan karena kurangnya istirahat, melainkan karena kebanyakan menahan. Kita menahan perbandingan, menahan ekspektasi, menahan perasaan “harusnya aku sudah sampai di sana, di titik itu”.

Dan di saat-saat begini, banyak hal-hal kecil tanpa kita sadari sering jadi pagar pembatas yang menjaga hari yang kita jalani tidak runtuh sepenuhnya. Bukan pagar yang megah dan wah, melainkan lebih seperti pegangan tangga: sederhana, tapi menyelamatkan saat langkah kita goyah.

Hal-hal kecil yang mengembalikan nafas

Ada saat-saat dimana ketika satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah kembali ke tubuh kita sendiri: berhenti, tarik napas perlahan, rasakan udara masuk dan mengisi dada, lalu keluarkan perlahan, seperti memberi sinyal ke diri sendiri dengan rasa lega dan lapang: “Ngga apa-apa, pelan-pelan aja dulu, sabar…” Kadang kebahagiaan bentuknya memang seperti itu, sesederhana membuka jendela dan membiarkan cahaya pagi menyentuh wajah dan muka yang sembab, atau mendengar suara hujan yang rintiknya jatuh merata, seolah nyanyian semesta yang berbaris.

Menariknya, ada riset yang menunjukkan bahwa “micro-acts” harian, hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, seperti bersyukur, kebaikan-kebaikan sederhana, atau refleksi singkat, ternyata bisa membantu meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan. Dan konsep “micro-joys” juga sering dibahas sebagai cara menjaga ketahanan emosional dengan kesenangan-kesenangan kecil yang muncul di sela rutinitas. Jadi, saat dunia meminta “bahagia” yang besar (pencapaian, status, angka), tubuh dan batin ternyata justru  bisa pulih dari yang “kecil” (nafas, sinar matahari, langkah kaki telanjang diatas tanah, air hangat, dll).​ Hal kecil itu juga sering terasa sangat “biasa” sekali: makan siang tanpa distraksi, mendengar lagu yang dulu menemani masa-masa sulit, atau menyapa satpam komplek dengan sapaan dan senyum yang tulus, bukan sekadar formalitas. Tapi justru karena hal itu sangat biasa, ia juga gampang sekali diulang. Dan karena gampang diulang, itu semua tentunya bisa jadi kebiasaan yang diam-diam menjaga diri kita tetap utuh dan waras.

Memungut remah-remah kebahagiaan

Di akhir tahun, banyak orang menunggu libur panjang untuk bisa merasakan hidup lagi, lebih bersemangat dan termotivasi. Padahal, kalau “hidup” hanya boleh terasa saat cuti dan liburan saja, berarti ada sesuatu yang terlalu berat di hari-hari biasa. Di sini, latihan kecil yang paling realistis adalah: memungut remah-remah kebahagiaan, bukan hanya menunggu saat pesta kebahagiaan. Caranya tidak harus selalu estetik atau puitis. Bisa sesederhana:

  • Menyebutkan satu hal yang berjalan baik hari ini, meski kecil.
  • Mengucapkan terima kasih dan bersyukur (di dalam hati pun boleh) untuk hal yang sering dianggap biasa/standar: bisa makan, bisa pulang, bisa mengobrol.
  • Mengembalikan atensi ke yang hal-hal yang sedang dilakukan, satu per satu (singgle task), fokus dan hadir disaat itu, disini kini.

Ada sebuah tulisan yang membahas “microdoses of gratitude”, sebuah praktik latihan syukur yang sangat sederhana, misalnya mengingat tiga hal kecil yang patut disyukuri di penghujung hari, kecil tapi konsisten sebagai kebiasaan yang dapat membantu menjaga dan meningkatkan kesehatan mental. Intinya bukanlah memaksakan diri untuk selalu positif, tapi dengan memberi ruang pada otak kita untuk merekam hal-hal yang yang baik, karena tanpa dilatih, yang terekam biasanya hanyalah hal-hal yang mengancam.​ Praktik ini tidak selalu tentang hal besar; sering kali justru “remah-remah” kebahagiaan kecil seperti makanan favorit, tawa singkat di tengah macet, atau tubuh yang masih diberi kesempatan bangun pagi yang menjadi titik pijak rasa syukur paling jujur. Bagi banyak orang beriman, kepekaan terhadap hal-hal kecil ini akhirnya terbaca sebagai cara halus untuk mengingat karunia Tuhan yang sering tertutup oleh kebiasaan menatap ke atas, membandingkan diri, dan ke depan mengejar target berikutnya, tanpa sempat menunduk untuk melihat apa yang sebenarnya sudah penuh di genggaman.

Di tengah perubahan yang cepat saat ini, menunduk dan memungut remah-remah kebahagiaan seperti itu semua, rasanya seperti menemukan sebuah oase: bukan karena masalah besar hilang, melainkan karena batin akhirnya punya tempat untuk rehat dan duduk sebentar. Oase itu bisa muncul dan dirasakan, seperti saat mengamati helai daun yang jatuh dan tertiup angin, seolah hidup berkata, “Lepas, tanggal dan jatuh juga ngga apa-apa.” Bisa juga saat menyadari: ternyata hari ini masih bisa tertawa, meski sebentar.

2026 tak harus “hidup baru”

Kalimat paling populer menjelang tahun baru biasanya bernada ekstrem: “Mulai hidup baru,” “New year, new me,” “Tahun depan harus lebih sukses.” Tapi setelah melewati 2025 yang terasa padat, mungkin pertanyaannya diganti: apakah yang dibutuhkan benar-benar hidup baru, atau cara pandang baru?

Hal-hal kecil dan “biasa” namun membahagiakan, menenangkan dan membuat nyaman sering dianggap sebagai “bahan bakar” kebahagiaan jangka panjang: bukan euforia besar yang cepat habis, melainkan percikan kecil yang ternyata seringkali muncul dan bisa dirawat. Sementara itu, panduan pemulihan burnout akhir tahun sering menekankan hal-hal yang sangat mendasar: tidur, membatasi komitmen, jeda kognitif, dan pemulihan bertahap. Hal-hal ini mungkin terdengar ngga “keren”, tapi justru karena ngga keren, banyak yang menyepelekannya, lalu heran mengapa batin mereka terus terasa sesak.​

Ngga perlu resolusi macem-macem yang terasa wah dan monumental untuk lantas ditulis besar-besar dan ditempel didepan pintu kamar, kalu ternyata cuma sekedar tempelan diluar diri tanpa melekat diingatan dan terlaksana. Tetaplah menjaga dan punya harapan yang baik dan sebagusnya tanpa bersandar pada harapan itu, menikmati proses dan perjalanan dengan segenap remah-remah yang menjaga kesadaran diri. Tetap melangkah tanpa perlu mengejar dan terlindas ambisi, jangan lupa jeda dan berjalan perlahan sesekali, jangan lupa pulang dan melihat isi “rumah”. Dan kalau suatu hari lagi-lagi merasa tertinggal, coba cari satu hal kecil hari itu yang bisa disyukuri, bukan untuk menutupi luka, tapi untuk mengingat: bahwasanya hidup masih ada di sini, kini dan sekarang, dan cukup layak dinikmati, bahkan sebelum semuanya “jadi.” Yang kita butuhkan bukan “versi baru diri” yang sempurna dan selalu produktif, tapi keberanian mengubah cara pandang: menurunkan standar bahwa bahagia harus spektakuler, dan mulai rela dirawat oleh hal-hal kecil yang tampak biasa, karena justru di situlah cara membangun keberlanjutan hidup yang lebih manusiawi.

Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image