Get In Touch
Jakarta Selatan, Indonesia
info@kreasidigitalpro.com
WhatsApp: +6289520549082
Back

Di Balik Hiruk Pikuk AI, Menemukan Rasa di Belantara Algoritma

Suatu sore, saat ngopi, bakar kretek dan santai, sambil scrolling dan bolak balik beberapa media sosial. 17:00 WIB, Cuaca sedikit mendung dan angin malas berhembus.

Mungkin karena preferensi dan algoritma terkait apa yang aku simak, aku lagi sering mendapatkan beberapa perdebatan dan keramaian unik belakangan ini. Bukan keributan yang gimana-gimana dan viral juga sih, lebih seperti beberapa situasi saat ada pro dan kontra mengenai satu topik atau hal tertentu yang baru. Maaf, ini bukan tulisan dan bahasan mengenai bumi datar atau bulat yah… hehehe 🙏😂

Beberapa kali aku ngelamun sambil ngguyu (tertawa) sendiri. Aku geli juga terkadang melihat betapa bisingnya dunia kita sekarang. Di sebelah sana, ada “Tim Kiamat” yang protes kalau AI kelak akan bikin kita semua jadi pengangguran. Sementara di belahan lain, ada “Tim Utopia” yang bilang AI adalah jawaban semua masalah, kita cuma tinggal duduk manis dan bahagia selamanya.

Ribut. Bising. Melelahkan. 😅

Rasanya bersyukur banget mengalami berbagai masa transisi sebagai salah satu orang dari generasi yang sudah gonta-ganti “alat kerja”—dari pita analog ke hard disk, sekarang ke cloud dan AI—aku cuma mau bilang satu hal: mungkin selama ini kita salah fokus. Ini bukan lagi soal pro atau anti. Itu perdebatan yang membosankan dan, jujur saja, sia-sia.

Kalau kamu cepet lelah dan bosen membaca tulisan panjang ini, kamu bisa santai dengerin ringkasan berupa voice-over ini.

Berhenti Jadi “Suporter”, Mulai Jadi “Pemain”

Perdebatan “pro vs anti” itu kayak lagi nonton bola tapi kita cuma jadi suporter doang di tribun. Kita teriak-teriak, saling ejek, bela sini dan jatuhkan yang lain, padahal kita sama sekali ngga ikut main di lapangan. Seru sih, tapi lama-lama ya nggateli (bikin kesel) juga.

AI itu ada. Teknologi itu nyata. Titik. Itu bukan lagi sesuatu yang perlu kita “setujui” atau “tolak”. Itu sudah jadi bagian dari proses yang pastinya kita lewati, seperti halnya “cuaca”. Kita ngga bisa menolak hujan, khan? Kita cuma bisa pilih mau pakai payung, jas hujan, atau ya… “go for it” alias nekat basah-basahan.

Dan buatku, AI itu seperti “palu atau pisau, obeng, dan lainnya”. Cuma sekedar alat bantu yang kita gunakan untuk mengerjakan sesuatu. Palu yang sama bisa dipakai oleh tukang kayu untuk membangun rumah yang indah, tapi bisa juga dipakai orang jahat untuk mukul kepala orang. Bila demikian, apakah yang salah palunya? Ya ngga dong. 😅 Yang menentukan adalah siapa yang pegang palu itu, apa niatnya dan untuk apa digunakannya.

Dan sekarang sebaiknya berhentilah cuma jadi suporter. Yuk kita turun ke lapangan. Coba pegang dan gunakan “palu atau obeng” itu. Nah, yang jadi pertanyaan selanjutnya bukan lagi “haruskah kita menggunakan AI?”, tapi “Bagaimana kita pakai AI… dengan benar?”

Kamu mau jadi “Pilot” atau “Penumpang”?

Ini perspektif yang paling penting buat aku. Seperti masa kanak-kanak dulu, saat kita ditanyakan punya cita-cita mau jadi apa? 😁

Dan di era ini, kamu juga punya pilihan: mau jadi “Pilot” atau cuma jadi “Penumpang”.

Jadi penumpang itu ya pastinya cuma bisa pasrah dalam banyak situasi dan kondisi. Dia duduk di belakang, ngga tahu mau ke mana, tujuannya apa, yang penting ikut. Dia lihat orang generate gambar AI, dia ikut generate. Dia lihat orang bikin lagu pakai AI, dia ikut bikin.

Hasilnya? Sampah data.

Kuantitas atau jumlah data (gambar, video, teks, dll) yang dibuat pakai AI makin banyak dan cenderung menggila, tapi kualitas… entah di mana 😒. Kita membanjiri internet dengan karya-karya “lumayan” yang dibuat hanya dalam 5 menit, dilihat atau didengar 3 detik, dan kemudian dilupakan selamanya. Kebanyakan ya gitu.. dan itu khan bukan kemajuan, itu cuma inflasi kebisingan.

Pilot, di sisi lain, punya tujuan. Dia tahu dia mau terbang ke mana (visi). Dia tahu kondisi cuacanya (konteks). Dia juga tahu cara baca panel instrumen (literasi) kendalinya. Saat seorang Pilot menggunakan AI, dia ngga bertanya atau kasih instruksi: “AI, bikinin aku lagu dong.” Dia memberi perintah dengan niat dan detail visi dan tujuan yang jelas: “AI, aku punya ide lirik tentang patah hati di stasiun kereta. Aku butuh progresi chord minor yang dark di key C minor, tapi kasih sentuhan hopeful di bagian reff-nya pakai major scale. Beri aku 5 opsi.”

Kelihatan khan bedanya?

Pilot menggunakan teknologi sebagai akselerator visi. Sementara penumpang menggunakan teknologi sebagai pengganti visi. Jadilah pilot. Kita butuh lebih banyak pilot yang bijak untuk menavigasi masa depan. Kita sudah kebanyakan penumpang yang cuma ikut-ikutan. 🛩

Proses adalah “Jiwanya”

“Kan gampang, Bang? Tinggal klik, jadi!”

Ya, itu masalahnya. Berbagai kemudahan yang kini bisa didapatkan secara instan seperti ini ternyata disisi lain telah membunuh sesuatu yang lebih krusial: Proses.

Dulu, waktu aku rekaman menggunakan peralatan analog, satu take vokal yang salah berarti ngulang lagi dari awal. Dan itu bisa berkali-kali, sampai dapat hasil yang sesuai visi dan feelnya. Mahal. Capek. Tapi di situlah proses “belajar” terjadi. Kita jadi disiplin, kita jadi merasakan setiap not. Kita jadi tahu dan memahami apa yang salah, bagaimana melakukannya lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan.

Sekarang, hanya dengan ketak ketik dan klik sebentar, tools seperti AI bisa memperbaiki vokal fals dalam 0,3 detik. Ajaib? Iya. Berbahaya? Juga iya. 😁

Berbahaya jika kita lupa bahwa “jiwa” dari sebuah karya itu lahir dari proses. Proses belajar, proses gagal, proses ngulik, proses iterasi (mencoba berulang-ulang).

Di era AI, prosesnya bukan lagi sekedar soal teknis (cara mixing), tapi telah bergeser ke konseptual (cara bertanya dan mengkurasi).

  • Kesadaran Belajar: “Oke AI, kasih aku 5 opsi chord. Kenapa opsi ke-3 ini ‘rasa’-nya paling enak? Oh, karena dia pakai suspended chord…” kamu tetap belajar.
  • Bertanggung Jawab: kamu tidak bisa menyalahkan AI jika lagunya jelek. “Sampah di-input, ya sampah juga output-nya.” kamu, sang pilot, yang bertanggung jawab atas prompt dan hasil akhirnya.
  • Iteratif: Hasil pertama AI hampir selalu “datar” dan generik. Tugas kamu adalah mengambil hasil 70% itu, lalu menambahkan 30% dengan sesuatu yang memiliki “jiwa”, “rasa”, dan “DNA manusia” kamu ke dalamnya. Ulangi sampai “rasa”-nya pas.

Kolaborasi Nyata, Bukan Cuma “Pamer Alat”

Terakhir, ini bukan cuma soal “Manusia + Mesin”. Itu kolaborasi level 1. Dan buatku udah akan lewat masanya. Kolaborasi level 2 yang paling seru adalah: “Manusia + Mesin + Manusia Lain”.

AI meruntuhkan tembok. Ada sebuah cerita perumpamaan tentang “Si Jago” (musisi pro yang berpengalaman manggung dan rekaman) dan “Si Pakar” (anak IT, ngulik teknologi dan AI)? Dulu mereka di dua kutub yang seakan berbeda dan bertolak belakang. Sekarang AI jadi jembatannya. Si Pakar (yang ngga bisa main alat musik) bikin blueprint lagu keren pakai AI. Tapi lagunya terasa seperti “robot”. Dia datang ke Si Jago (gitaris). “Bro, ini blueprint-nya. Tolong isiin dong ‘nyawa’-nya pakai gitar lo yang penuh ‘emosi’ itu.” Dan Boom! Terjadilah karya hibrida yang ajaib. Si Pakar dapat eksekusi brilian, Si Jago dapat ide segar (dan mungkin job baru).

Itu contoh dari kolaborasi dan berbagi manfaat yang lebih nyata. Bukan cuma pamer “Gue bikin ini full pakai AI,” tapi “Kami atau kita (kamu, temen kamu, dan AI) bikin ini semua bareng-bareng.”

Penutup: Alat di Tangan yang Bijak

Jadi gaes, di akhir ngopi ini… Menurutku semua itu kembali ke kita. Teknologi ini—AI, digital, apa pun namanya nanti—hanyalah “alat”.

Kita bisa pakai alat seperti palu yang bisa kita gunakan untuk membangun “rumah” (karya) yang lebih cepat, lebih megah dan lebih efisien. Tapi jangan lupa, rumah itu tujuannya untuk bermanfaat; untuk jadi tempat berteduh, tempat berbagi cerita.

Tapi kalau kita cuma sibuk membangun tanpa niatplease sadari dan pahami, kita cuma akan menghasilkan tumpukan “material” (data) yang jadi sampah dan tidak bermakna. Dan kalau kamu teliti dan pelajari, itu ternyata juga berdampak negatif pada alam dan lingkungan dalam banyak faktor.

Jadi cobalah belajar dengan baik dan bijak untuk menggunakan semua alat (teknologi dan AI) itu. Jadilah pilot yang bijak. Dan bangunlah sesuatu yang benar-benar berarti dan bermanfaat.

Yok
Yok
https://kreasidigitalpro.com

Situs web ini menyimpan cookie di komputer Anda. Cookie Policy

Preloader image